BBM Naik

Kasih Sinyal BBM Naik, Sri Mulyani: Subsidi Rp502,4 Triliun Bisa Bangun 3.333 Rumah Sakit

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sinyal BBM naik dalam waktu dekat. Subsidi BBM yang membengkak dianggap telah menciptakan kesenjangan.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
BBM Naik
Pemerintah memberikan sinyal harga BBM naik dalam waktu dekat 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sinyal BBM naik dalam waktu dekat. Subsidi BBM yang membengkak dianggap telah menciptakan kesenjangan.

Sinyal BBM naik itu diungkapkan Sri Mulyani di akun instagramnya Minggu (29/8/2022).

Kata Sri Mulyani subsidi BBM yang besar diberikan oleh pemerintah tidak tepat sasaran. Hal inilah yang membuat pemerintah memutuskan harga BBM naik.

Kata Sri Mulyani di tengah badai ketidakpastian global, APBN terus bekerja keras sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyatakat dan ekonomi nasional dari guncangan yang terjadi.

Konsekuensinya anggaran subsidi dan kompensasi telah dinaikkan 3 kali lipat dari sebelumnya menjadi Rp502,4 T melalui Perpres 98/2022.

Subsidi itu dinaikan dengan harapan agar daya beli masyarakat dapat dijaga serta trend pemulihan ekonomi tetap berlanjut dan semakin menguat.

Sementara mencermati perkembangan terkini diperkirakan harga minyak mentah masih terus naik akan mencapai US$105/barel pada akhir tahun.

Harga itu lebih tinggi dari asumsi makro pada Perpres 98/2022, yaitu US$100/barel.

Nilai tukar US Dollar terhadap Rupiah juga berada di angka Rp14.700, lebih tinggi dari asumsi sebesar Rp14.450.

Baca juga: Harga BBM Naik, PLN dan Grab Berkomitmen Mendukung Pengembangan Infrastruktur Kendaraan Listrik

Sejalan aktivitas ekonomi yang makin pulih dan mobilitas yang meningkat, kuota volume BBM bersubsidi yang dianggarkan dalam APBN 2022 diperkirakan akan habis pada Oktober 2022.

Sri Mulyani menjelaskan apabila terus dibiarkan, anggaran subsidi dan kompensasi harus ditambah.

“Namun, masalahnya, siapa yang menikmati anggaran subsidi ini?” tulis Sri Mulyani.

Kata Sri Mulyani, dari data yang ada, ternyata, BBM bersubsidi lebih banyak dinikmati oleh golongan masyarakat yang lebih mampu.

Hal inilah yang membuat anggaran subsidi jadi salah sasaran dan tidak adil.

Menurut Sri Mulyani, subsidi BBM yang besar bukan mengurangi kemiskinan, tapi justru menciptakan kesenjangan.

Di sisi lain, anggaran sebesar Rp502,4 triliun untuk subsidi energi sebenarnya bisa dipakai untuk membiayai begitu banyak pembangunan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas dan tepat sasaran.

Misalnya saja, anggaran subsidi BBM sebesar itu bisa digunakan untuk membangun 3.333 rumah sakit, 227.886 sekolah dasar, 3.051 ruas tol baru, dan 41.666 puskesmas.

Maka dari itu kata Sri Mulyani kebijakan subdisi dan kompensasi akan disesuaikan agar APBN dapat memberikan lebih banyak manfaat bagi masyarakat.

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved