Pemilu 2024

Nurul Arifin: Dinasti Politik Tidak Haram Ketika Punya Komitmen, Kapasitas, dan Kapabilitas

Nurul mengaku sempat melihat dinasti politik sebagai suatu defisit, saat masih menjadi aktivis.

Editor: Yaspen Martinus
Kompas.com
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurul Arifin menilai dinasti politik bukanlah sesuatu yang haram. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurul Arifin menilai dinasti politik bukanlah sesuatu yang haram.

Asalkan, katanya, orang-orang yang berada dalam dinasti ini masih punya komitmen, kapasitas, dan kapabilitas.

"Kalau orangnya mumpuni, kenapa tidak boleh?"

Baca juga: Kapolri Perintahkan Nasib Irjen Ferdy Sambo Diputuskan pada Sidang Etik Hari Ini Juga

"Kalau kita lihat satu contoh parpol di Jepang, Partai LDP, itu semua anaknya si ini, kakeknya adalah tokoh politik yang punya karisma."

"Dinasti politik bukan jadi sesuatu yang haram ketika orang-orang tersebut punya komitmen, kapasitas, dan kapabilitas."

"Kalau hanya suara dari orang tuanya, itu yang saya tidak setuju," ujar Nurul dalam diskusi daring Persiapan Partai Politik Menjelang Pemilu 2024: Tantangan dan Peluang, Kamis (25/8/2022).

Baca juga: Besok Putri Candrawathi Diperiksa Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir Yosua di Bareskrim

Nurul mengaku sempat melihat dinasti politik sebagai suatu defisit, saat masih menjadi aktivis. Namun, semuanya berbeda saat ia terjun dalam dunia politik

"Kalau dinasti politik tersebut, waktu itu saya waktu masih jadi aktivis ini defisit politik, tapi ketika di dalam, saya lihat dinasti bukan defisit politik," tuturnya.

Nurul menambahkan, dinasti politik bisa menjadi defisit politik, karena ketika tokoh dalam dinasti mendapat suara dengan mudah, tapi tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Baca juga: Dipanggil MKD, Mahfud MD Ogah Ungkap Nama Anggota DPR yang Diduga Sempat Dihubungi Ferdy Sambo

Sehingga, dinasti politik kembali lagi kepada individu masing-masing, bukan dari label dinasti yang dilakukan secara turun temurun.

"Karena memang itu jadi defisit ketika dapat suara gampang, kemudian tidak bisa menjalankan pekerjaan, karena mudah dapat suara. Ini kan tergantung individu, bukan label dinasti," bebernya. (Mario Christian Sumampow)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved