Warta Bisnis

Pelaku UMKM Topang Perekonomian Nasional hingga 60 persen

Sebanyak 90 persen pelaku usaha saat pandemi Covid-19 membutuhkan modal untuk kembali memulai usahanya.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Junianto Hamonangan
ILUSTRASI: UMKM binaan Jakpreneur ikut serta acara Jakarta Hajatan ke-495 di Jakarta International Stadium (JIS), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (25/6/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Center of Economic and Law Studies menyatakan, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi.

Bahkan pelaku UMKM memberikan sumbangan 60 persen terhadap produk domestik bruto (PD) dan 97 persen serapan tenaga kerja nasional.

“Itu artinya, tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi bergantung dari kesiapan UMKM. Bahkan, selama masa pandemi, para pekerja yang di-PHK (pemutusan hubungan kerja) dari sektor formal, masuk menjadi pengusaha UMKM baru. Itu keajaiban UMKM,” kata Direktur Celios Bhima Yudhistira kepada Warta Kota pada Senin (15/8/2022).

Bhima mengatakan, pemerintah harus tetap memberikan stimulus bagi UMKM, khususnya segmen mikro berupa bantuan usaha (BPUM).

Bantuan itu hendaknya diiringi dengan pendampingan oleh Pemda dan kementerian demi mempercepat pemanfaatan fitur digital bagi UMKM.

Baca juga: Pemprov DKI Libatkan UMKM Jakpreneur di Ajang Retail Summit di Sarinah

“Saran lainnya adalah kenaikan kualitas dari produk UMKM untuk merambah pasar ekspor,” ujar Bhima.

Salah satu stimulus yang tetap bisa diberikan yaitu kredit usaha rakyat (KUR).

Kata dia, KUR memiliki andil yang sangat penting karena kebutuhan permodalan cukup tinggi dan beberapa debitur UMKM sempat kesulitan mengakses pinjaman konvensional dari bang akibat tingginya tingkat risiko saat itu.

“Bunga KUR masih rendah, tidak ikut-ikutan bunga bank umum yang sulit turun menyesuaikan bunga acuan. Porsi KUR disektor produktif juga terus dinaikkan, dan itu sangat membantu segmen pertanian, dan industri skala kecil bertahan selama pandemi,” jelas Bhima.

Menurutnya, 90 persen pelaku usaha saat pandemi Covid-19 membutuhkan modal untuk kembali memulai usahanya.

Karena itu, kebutuhan permodalan sangat penting, bukan hanya dari sisi kemudahan syarat, tapi juga tingkat plafon dan suku bunga.

Baca juga: Sekolah di Cileungsi Terima Alat Sekolah Produksi UMKM Binaan YDBA

Permodalan dapat digunakan untuk pembelian bahan baku, atau bayar sewa toko. Selain itu tantangan lain adalah digitalisasi, di mana sebanyak 30 persen UMKM telah berhasil masuk ke ekosistem digital.

Bhima bilang, hal itu merupakan hasil dari pengembangan infrastruktur internet di daerah, juga sosialisasi yang masif selama pandemi. Tapi dia menganggap, tidak cukup bagi pelaku UMKM untuk melakukan penyesuaian atau onboarding ke platform digital. 

“Jadi yang lebih penting adalah bagaimana UMKM bisa memanfaatkan fitur di platform digital untuk memperlancar logistik, meningkatkan akses pasar, hingga memudahkan pencatatan keuangan,” jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved