Intoleransi

Berkaca Kasus Bantul, SETARA Institute Minta Sekolah Negeri Tidak Paksa Siswi Pakai Jilbab

SETARA Institute mengutuk keras pemaksaan jilbab terhadap siswi di SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Editor: Desy Selviany
Tribun
Ilustrasi siswi pakai jilbab di Bantul 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - SETARA Institute mengutuk keras pemaksaan jilbab terhadap siswi di SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Sebelumnya diberitakan seorang siswi berusia 16 tahun di SMA 1 Banguntapan hingga depresi usai mendapatkan persekusi dari gurunya lantaran tidak mau memakai jilbab.

Direktur Riset SETARA Institute Halili Hasan mengutuk keras peristiwa intoleransi yang terjadi di dalam lingkungan pendidikan itu.

Apalagi kata Halili Hasan, peristiwa intoleransi itu terjadi di dalam sekolah negeri yang seharusnya bisa lebih menjaga keberagaman.

Menurut Halili Hasan, seharusnya tidak ada lagi sekolah-sekolah negeri yang memaksakan siswinya memakai jilbab.

Sebab hal, itu bertentangan dengan kebhinekaan Indonesia yang mesti dijunjung, dirawat, dan dikokohkan.

Apalagi, sekolah negeri secara tidak langsung operasional dibiayi oleh APBN dan APBD.

“Sekolah negeri merupakan lembaga pendidikan formal yang dimiliki oleh negara dan dioperasikan menggunakan anggaran negara secara langsung maupun tidak, baik melalui APBN maupun APBD yang dihimpun dari seluruh warga negara yang beragam,” katanya dikutip Tribunjogja.com , Sabtu (30/7/2022).

Baca juga: Tidak Mau Pakai Jilbab, Siswi di Bantul Hingga Jatuh Pingsan Dipersekusi Guru Sendiri

Maka dari itu, Halili Hasan meminta agar pihak terkait bisa memberikan sanksi tegas terhadap pihak sekolah atau guru yang memaksakan siswi tersebut memakai jilbab.

Hal itu sebagai efek jera para oknum dan pembelajaran bagi tenaga pendidik lain di Indonesia.

Menurut Halili Hasan tindakan pemaksaan pemakaian jilbab yang diduga dilakukan oleh guru BK merupakan penyelewengan kewenangan.

Seharusnya para stakeholders di sekolah, termasuk guru BK, menjadi aktor kunci bagi proses-proses pendidikan dan pembudayaan di sekolah.

Sebab, secara prinsip, pendidikan harus berorientasi pada kepentingan siswa, nonkekerasan dari simbolik, verbal, hingga tindak kekerasan terbuka dan kultur damai. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved