Parenting

Masuk Masa Transisi Pandemi, Ini Enam Kiat Agar Anak Bisa Memulai Adaptasi Kebiasaan Baru

Masa transisi kebiasaan baru pasca pandemi Covid-19 membutuhkan adaptasi. Berikut enam kiat yang orang tau lakukan ke anak untuk mulai adaptasi baru.

Tangkapan layar Wartakotalive.com/ Mochammad Dipa
Psikolog Keluarga di Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, M.Psi (kedua kiri) dalam konferensi pers virtual Bebelac Rayakan Hari Anak Hebat Nasional, Kamis (21/7/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM - Memasuki masa transisi kebiasaan baru pasca pandemi Covid-19 tentunya membutuhkan adaptasi dan penyesuaian terhadap rutinitas dalam kehidupan keluarga, terutama bila anak mulai kembali beraktivitas di luar rumah.

Psikolog Keluarga di Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, M.Psi mengatakan, bahwa selama pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas manusia di luar rumah membuat banyak sekali terjadinya kasus keterlambatan perkembangan anak terutama di aspek sosial emosional dan motorik kasar anak.   

“Dominannya keterlambatan ini disebabkan oleh pertama kurangnya stimulasi karena keterbatasan kondisi dan juga yang mempengaruhi level stress yang dialami anak dan lingkungan sekitar dalam arti orang tuanya. Hal ini banyak dialami oleh anak-anak secara global,” ujar Nadya dalam konferensi pers virtual Bebelac Rayakan Hari Anak Hebat Nasional, Kamis (21/7/2022).

Nadya menyebutkan, di masa transisi pasca pandemi Covid-19 dimana pelonggaran aktivitas masyarakat di luar rumah mulai dilakukan, membuat sejumlah orang tua merasa khawatir terhadap anak dalam beradaptasi.

Psikolog Keluarga di Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, M.Psi (1)
Psikolog Keluarga di Rumah Dandelion Nadya Pramesrani, M.Psi, dalam konferensi pers virtual Bebelac Rayakan Hari Anak Hebat Nasional, Kamis (21/7/2022).

“Anak akan pertama kali berinteraksi dengan orang lain secara mandiri yang tidak lagi didampingi oleh orang tuanya pasca pandemi. Secara umum masalah yang kerap terjadi dilingkungan sekolah adalah bagaimana anak menimbulkan perilaku agresi yang lebih tinggi atau anak yang menarik diri,” ungkapnya.

Secara umum, lanjut Nadya, bagi anak-anak yang harus kembali berinteraksi ke dunia luar rumah,  masalah yang sering ditemui adalah mereka akan sangat cemas dan sulit untuk berpisah dengan orang tua.

“Karena saat ini banyak orang tua yang sudah kembali ke kantor dan ini kemudian menimbulkan drama di rumah. Kemudian ketika anak berinteraksi dengan orang baru mereka jadi takut dan menarik diri, hingga tantrum,” sebutnya.

Masalah selanjutnya adalah penurunan aktivitas fisik diiringi dengan peningkatan screen time penggunaan gawai selama pandemi berdampak pada kesehatan fisik anak dan itu mempengaruhi bagaimana ketika mereka kembali ke dunia sosial.

“Secara umum karena pada saat pandemi lebih banyak screen time secara emosi anak-anak pandemi ini lebih banyak yang rewel perilaku suasana hatinya bisa naik dan turun dengan sangat cepat. dan ketika lagi bad mood, lebih sulit untuk meregulasi hal itu dan kembali kepada happy moodnya.

Kemudian, masalah lainnya adalah anak menjadi hiperaktif dan kurang fokus. Hal ini merupakan dampak dari peningkatan screen time atau penggunaan gawai pada masa pandemi.

“Karena kurang gerak dan peningkatan screen time anak menjadi hiperaktif gerak sana gerak sini tapi tidak bertujuan dan bikin kekacauan di rumah dan kondisi rumah yang kacau pada akhirnya berbalik lagi kepada si kecil yang membuat mereka jadi semakin sulit untuk fokus,” ungkap Nadya.

Enam kiat memulai kebiasaan baru

Menurut Nadya, ada enam kiat yang dapat dilakukan orang tua terhadap anak dalam memulai kebiasaan baru memasuki pasca pandemi. 

Pertama, pemberian asupan nutrisi yang tepat sehingga mendukung anak memiliki saluran cerna yang sehat (Happy Tummy), perkembangan daya pikir yang hebat (Happy Brain) dimana keduanya akan berpengaruh pada kemampuan sosial-emosional anak.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved