Polisi Tembak Polisi

Komnas Perempuan Indikasikan P Alami Kekerasan Seksual Berdasarkan Keterangan Penyidik dan Psikolog

Berikut ini keterangan lengkap Komnas Perempuan terkait kasus penembakan Brigadir Yosua.

Penulis: Yaspen Martinus | Editor: Yaspen Martinus
Warta Kota/Miftahul Munir
Komnas Perempuan mengidentifikasi adanya indikasi kasus kekerasan seksual yang dialami oleh P, istri Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, terkait kasus penembakan yang menewaskan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Komnas Perempuan mengidentifikasi adanya indikasi kasus kekerasan seksual yang dialami oleh P, istri Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, terkait kasus penembakan yang menewaskan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Dikutip dari laman komnasperempuan.go.id, berikut ini keterangan lengkap Komnas Perempuan terkait kasus penembakan Brigadir Yosua.

Menanggapi pertanyaan publik yang disampaikan kepada Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) terkait peristiwa penembakan Brigadir J di Jakarta (Jumat, 8 Juli 2022), Komnas Perempuan menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

Atas undangan Polda Metro Jaya pada Rabu, 13 Juli 2022, Komnas Perempuan telah mendengarkan keterangan dari pihak penyidik dan psikolog terkait pelaporan P tentang kekerasan seksual yang dialaminya.

P sendiri tidak hadir karena masih dalam kondisi terguncang/shock.

Dari pertemuan tersebut, Komnas Perempuan memperoleh informasi bahwa:

a) Pelapor/korban masih dalam kondisi yang sangat terguncang, dan membutuhkan pendampingan lanjutan untuk membantu proses pemulihannya dan untuk dapat mengikuti proses hukum berikutnya;

b) kondisi pelapor/korban diperburuk dengan publikasi baik melalui media maupun media sosial yang menyangsikan pengalaman dan menyudutkan pelapor/korban;

c) pelapor/korban menguatirkan dampak peristiwa dan publikasinya bagi keluarga, khususnya pada anak-anaknya, mengingat 3 di antaranya masih berusia di bawah 18 tahun.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh itu, Komnas Perempuan mengidentifikasi adanya indikasi kasus kekerasan seksual yang dialami oleh P.

Pendalaman kasus masih dibutuhkan untuk bisa mengenali lebih utuh tindak kekerasan seksual yang terjadi dan mengenali kebutuhan pemulihan bagi pelapor/korban.

Komnas Perempuan juga mencatat pemulihan pada pelapor/korban P penting dalam posisinya sebagai saksi pada peristiwa penembakan.

Ini menjadi bagian yang integral dalam penyelenggaraan pemenuhan hak bagi perempuan berhadapan dengan hukum.

Komnas Perempuan mengamati bahwa perkembangan publikasi kasus kekerasan seksual cenderung menjadikan pengalaman korban sebagai komoditi semata dan sensasionalitas polemik seputar peristiwa.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved