Jakarta Kota Mahal

Ongkos Benahi Jakarta Lebih Mahal Dibanding Membangun IKN Baru, Wagub DKI Ariza: Kotanya Sudah Jadi

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebut ongkos membenahi Jakarta lebih mahal dibanding membangun Ibu Kota Negara (IKN) baru.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Sigit Nugroho
Warta Kota/Indri Fahra Febrina
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria. 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebut ongkos membenahi Jakarta lebih mahal dibanding membangun Ibu Kota Negara (IKN) baru.

Pernyataan itu ditanggapi oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

Mantan anggota DPR RI Fraksi Gerindra itu menilai bahwa pembangunan Jakarta lebih mahal, karena sudah berbentuk metropolitan, sehingga segala kebutuhan warganya telah tersedia.

"Memang Jakarta, kotanya sudah jadi, harga tanahnya lebih mahal. Kalau bangun di Jakarta dibandingkan di Kalimantan, tentu jauh," kata Ariza di Balai Kota DKI, Jumat (15/7/2022).

Baca juga: Tak Berniat Ikut Pilkada, Basuki Hadimuljono: Sudah 70 Tahun Bos, Saya Sudah Selesai

Baca juga: OMG Kaltim Yakin Ganjar Pranowo Bisa Tuntaskan IKN Jika Jadi Presiden 2024

Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Diminta Masifkan Sosialisasi Layanan Pengaduan Pelecehan Seksual di Tempat Umum

Ariza berujar bahwa berbagai infrastruktur yang telah tersedia di Jakarta membuat segala keperluan di Ibu Kota menjadi lebih mahal, mulai dari harga properti, tanah, pangan, dan sebagainya.

"Harga tanahnya sudah berbeda dan harga materialnya juga sudah berbeda. Costnya (biaya) jauh lebih mahal, karena Jakarta sudah jadi kotanya, tentu pembangunan di sini lebih mahal," ujar Ariza.

Ariza lalu membandingkan, jika pemerintah ingin membangun infrastruktur baru di Jakarta, tentu anggaran yang diperlukan lebih besar dibanding daerah lain.

Apalagi dalam membangun infrastruktur sudah tercantum satuan harganya.

BERITA VIDEO: Via Vallen Tunjuk 2 Menteri Jokowi Jadi Saksi Nikah

"Setiap kota yang sudah jadi atau sudah ada, tentu cost pembangunannya jauh lebih mahal. Kamu bikin jalan di Jakarta dan Kalimantan, ya berbeda dong dengan bikin jembatan di Surabaya," terang Ariza.

Diberitakan sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa memperbaiki kondisi DKI Jakarta kemungkinan akan menghabiskan lebih banyak biaya daripada membangun ibu kota baru.

Dilansir dari Kompas.com, Basuki menyampaikan hal itu menanggapi pertanyaan apakah pemerintah optimistis mampu memindahkan ibu kota dari Jakarta ke IKN Nusantara pada 2024.

"Jadi daya dukung Jakarta ini sudah berat. Memerbaikinya pun mungkin lebih mahal kalau (dibandingkan) kita bikin (ibu kota baru)," kata Basuki di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (11/7/2022).

Basuki berujar bahwa Kementerian PUPR menyadari bahwa daya dukung Jakarta sudah tidak mungkin lagi dikembangkan.

Bukan hanya soal banjir yang menjadi bencana rutin di Ibu Kota, melainkan secara jangka panjang ada potensi air dari sungai tidak bisa lagi mengalir ke laut.

Hal itu disebabkan kondisi penurunan muka tanah di Jakarta.

"13 sungai berdasarkan data dan model yang kami buat 15-20 tahun, mungkin 15 tahun sejak 2015, itu tidak akan bisa yang mengalir gravitasi ke laut kecuali kalau kita bikin tanggul yang tinggi-tinggi," ujar Basuki.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved