Penembakan

Bola Liar Tewasnya Brigadir Yosua, Koordinator JAKI Minta Irjen Ferdy Sambo Tak 'Dipaksa' Terlibat 

Apabila dimintai keterangan tim atau petugas terkait, kedudukan Ferdy menurut Yudi cukup dalam bentuk klarifikasi dan keterangan secukupnya,

Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
Irjen Pol Ferdy Sambo dan Istri, Ny. Putri Ferdy Sambo (twitter) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Koordinator Eksekutif Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional (JAKI), Yudi Syamhudi Suyuti mengapresiasi pembentukan tim khusus oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, guna mengungkap secara tuntas kasus tembak-menembak antar ajudan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo di kediamannya.

Apalagi, tim berisi bukan hanya internal, tapi juga eksternal seperti Komnas HAM dan Kompolnas.

Meski demikian, Yudi Syamhudi Suyuti tidak sependapat terhadap adanya penggiringan opini agar Irjen Sambo 'dipaksa' terlibat dalam kasus tersebut.

"Namun dalam konstruksi hukum atas kejadian tersebut, menurut kami Pak Ferdy Sambo tidak berada dalam pusaran kasus saling tembak tersebut. Keterkaitan Kadiv Propam tersebut, hanya terkait dengan locus delicti atau tempat kejadiannya dan posisinya sebagai suami dari Nyonya Putri Candrawathi," kata Yudi, Kamis (14/7), dalam keterangannya. 

Sehingga apabila dimintai keterangan tim atau petugas terkait, kedudukan Ferdy menurut Yudi cukup dalam bentuk klarifikasi dan keterangan secukupnya, sesuai keterkaitannya dalam kasus tersebut. 

"Hal ini karena Irjen Pol Ferdy Sambo sedang tidak berada di tempat," ujarnya. 

Baca juga: Istri Irjen Ferdy Sambo Trauma Berat, Kini Jalani Trauma Healing

"Sehingga dalam konteks tempus delicti atau waktu kejadian kasus tersebut, tidak memiliki keterkaitan," ungkap Yudi. 

Dalam kasus ini, kata dia secara obyektif pemeriksaan utamanya hanya dilakukan terhadap tiga orang.

Yaitu Bharada E, istri Ferdy, Putri Candrawathi, Brigadir Nopriyansyah Hutabarat, ditambah saksi-saksi yang berada di tempat saat peristiwa tersebut terjadi.

"Untuk pemeriksaan Nopryansah Yosua Hutabarat, juga dibutuhkan instrumen Undang-Undang No. 8/1981 tentang Keterangan Ahli berbentuk tertulis, dalam hal ini adalah visum et repertum. Visum et repertum adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter atau ahli forensik lainnya yang berisi apa yang mereka temukan pada tubuh korban," tandanya. 

"Dan tentu proses pemolisian atau pendalamannya mulai dari penyelidikan hingga penyidikan merupakan wewenang Polres Jakarta Selatan yang diasistensi oleh Polda Metro Jaya dan Bareskrim juga oleh tim khusus gabungan yang dibentuk Kapolri," imbuh Yudi. 

Baca juga: Mengaku Nyaris Dicabuli Brigadir J, Begini Sosok dan Pesona Putri Candrawathi Istri Irjen Sambo

Dalam konteks fakta pelecehan dan pembunuhannya sendiri, menurut Yudi, tentu hanya dapat diketahui secara pasti oleh ketiga orang yang berada dalam pusaran kasus tersebut.

Dan hal itu, menjadi kewenangan para penyidik serta anggota tim investigasi dari tim khusus. 

Terkait spekulasi jabatan Irjen Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam, Yudi menilai tidak etis untuk dibahas dalam situasi yang sedang berduka. 

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved