'Bahasa Jaksel' Dinilai Takkan Bertahan Lama, Apalagi Sampai Satu Generasi

Menurut Aminudin, penggunaan bahasa slang tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Bahasa Indonesia.

Editor: Yaspen Martinus
istimewa
Penggunaan bahasa Jaksel atau bahasa slang lainnya tidak perlu dirisaukan, karena tidak akan bertahan lama. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - E Aminudin Aziz, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, menilai bahasa slang di kalangan anak muda, tak akan bertahan lama.

Saat ini, kalangan anak muda gemar berbahasa slang yang dikenal sebagai 'Bahasa Jaksel.'

Menurut Aminudin, penggunaan bahasa Jaksel atau bahasa slang lainnya tidak perlu dirisaukan, karena tidak akan bertahan lama.

Baca juga: Komisi III DPR Bakal Gandeng Kemenkes, Polri, dan BNN Bentuk Badan Pengawas Ganja Medis

"Penggunaan bahasa slang tidak akan bertahan lama. Paling lama bertahan ya satu tahun, dua tahun."

"Malah ada yang cuma beberapa bulan. Enggak pernah ada yang sampai satu generasi," kata Aminudin dalam Riung Wartawan: Dua Tahun Kinerja Badan Bahasa di Hotel Swiss-belhotel, Tangerang Selatan, Jumat (1/7/2022).

Menurut Aminudin, penggunaan bahasa slang tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Bahasa Indonesia.

Baca juga: Anis Matta: Parpol Cuma Jual Tiket Capres Merusak Sistem Politik Indonesia

Bahasa slang, kata Aminudin, hanya kerap digunakan generasi muda. Generasi muda tersebut hanya menggunakan bahasa slang pada masa kini.

"Kita lihat yang sekarang ramai mencampur Bahasa Indonesia dengan Inggris, istilahnya bahasa Jaksel begitu."

"Terus bahasa alay, prokem, vikinisasi, begitu kan, itu enggak bertahan kan," terangnya.

Baca juga: Komisi Peninjauan Kembali Punya Waktu Dua Pekan Periksa Putusan Sidang Etik AKBP Raden Brotoseno

Generasi muda, kata Aminudin, suatu waktu akan meninggalkan bahasa slang, dan kembali menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar.

Hal itu dikarenakan seiring generasi muda menjadi tua, maka ia akan kembali ke Bahasa Indonesia yang benar.

"Karena tidak mungkin waktu dia akhirnya bekerja masih menggunakan bahasa slang. Jadi akan hilang begitu saja."

"Apalagi bahasa slang tidak memiliki dasar, tidak konstruktif, jadi orang capai juga memikir bagaimana menggunakannya," papar Aminudin.

Revitalisasi 38 Bahasa Daerah

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved