Pilpres 2024

Percaya Diri Ikut Pilpres 2024, Cak Imin: Teori Pesantren Lebih Tua dari Sosialisme dan Kapitalisme

Karena itu, kata Gus Muhaimin, semua anak bangsa memiliki hak yang sama dalam mewarnai bangsa ini.

Editor: Yaspen Martinus
Dokumentasi Pribadi
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar sangat percaya diri maju sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2024. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar sangat percaya diri maju sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2024.

Cak Imin, sapaan karibnya, mengatakan, tidak ada alasan untuk tidak punya nyali maju sebagai capres, meski PKB baru memiliki modal 10 persen sebagai syarat pencalonan presidential threshold (PT).

Selama ini, banyak pihak yang mempertanyakan mengapa dirinya benar-benar mantab maju dalam Pilpres 2024.

Menurutnya, pesantren memiliki konsep yang lengkap dalam hal kepemimpinan maupun pembangunan bangsa dan negara.

Kaum pesantren, kata Cak Imin, punya doktrin, ajaran, teori, strategi, ilmu kemasyarakatan, ilmu keumatan, kebangsaan hingga lahir darussalam, mabadik khoiru ummah.

Lahir doktrin keluarga sakinah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah bashariyah.

Baca juga: Epidemiolog Bilang Kasus Positif pada Gelombang Keempat Pandemi Covid-19 di Indonesia Bakal Sedikit

”Teori pesantren jauh lebih tua dari teori sosialisme, kapitalisme. Semuanya lengkap, masa kayak gini enggak peryaca diri?” Ujar Cak Imin dalam keterangan yang diterima, Senin (27/6/2022).

Kata Cak Imin, kaum santri wajib memiliki kepercayaan diri yang kuat, karena memiliki warisan yang kokoh dan mengakar dalam konsep pembangunan, mulai dari unit terkecil di lingkup keluarga, hingga unit keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan.

”Seharusnya pesantren menjadi arus utama yang percaya diri dalam mempengaruhi pembangunan bangsa,” tuturnya.

Baca juga: Geledah Sejumlah Lokasi, KPK Sita Dokumen Terkait Dugaan Korupsi LNG di Pertamina

Wakil Ketua DPR itu mengatakan, Indonesia sudah pernah menerapkan konsep pembangunan ala sosialisme timur dan cenderung komunisme pada era Bung Karno, yang belakangan dikenal dengan pola pikir sosialisme.

Kemudian pada era Orde Baru, Soeharto menerapkan model pembangunan liberalisme yang diadopsi dari Amerika Serikat (AS).

”Ujungnya bangkrut. Tahun 1998 rontok. Negara rugi ratusan triliun akibat pemilihan model kapitalisme, liberalisme, maka era reformasi lahir, era demokrasi."

Baca juga: PDIP Bakal Gelar Rakernas Lagi di Akhir 2022, Megawati Berpotensi Umumkan Bakal Capres 2024

"Era ini siapapun boleh mewarnai jalannya pemerintahan, bangsa, dan negara,” ulasnya.

Karena itu, kata Gus Muhaimin, semua anak bangsa memiliki hak yang sama dalam mewarnai bangsa ini.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved