Cuti Melahirkan

Mendukung Usulan Cuti Melahirkan Selama Enam Bulan, KPAI: Sangat Penting untuk Peradaban Indonesia

DPR RI sedang menindaklanjuti pembahasan Rancangan Undang Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA).

Editor: Sigit Nugroho
dok. Freepik.com
Ilustrasi ibu menyusui. Menurut hasil penelitian tim kedokteran kerja FKUI merujuk pada satu bukti yaitu cuti melahirkan selama 6 bulan bagi ibu pekerja sangat efektif meningkatkan potensi kesuksesan ASI eksklusif, 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - DPR RI sedang menindaklanjuti pembahasan Rancangan Undang Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA).

Dalam pembahasan itu, Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong agar cuti melahirkan diubah menjadi enam bulan.

Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, Puan menegaskan pentingnya pengaturan ulang masa cuti hamil ini penting untuk menjamin tumbuh kembang anak dan pemulihan bagi Ibu setelah melahirkan.

Selain itu, cuti hamil ini juga untuk menekan angka stunting dengan peran Ibu yang lebih dominan. 

"DPR akan terus melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan berkenaan dengan hal tersebut. Kami berharap komitmen Pemerintah mendukung aturan ini demi masa depan generasi penerus bangsa,” kata Puan.

Baca juga: Tak Hanya Resiko Gagal ASI Eksklusif, Cuti Melahirkan 3 Bulan Ganggu Produktivitas Bekerja

Baca juga: Cuti Melahirkan Selama 6 Bulan Efektif Tingkatkan Potensi Kesuksesan ASI Eksklusif

Baca juga: Uni Emirat Arab Menjadi Negara Arab Pertama yang Terapkan Cuti Melahirkan bagi Karyawan Lelaki

Usulan dari Puan itu didukung Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Retno Listyarti.

Menurut Retno, urgensi RUU KIA sangat penting bagi peradaban Indonesia. 

“Adanya cuti melahirkan yang cukup ideal akan membuat seorang ibu yang baru melahirkan memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik dan anak pun bisa terjaga dan terawat dengan baik,” kata Retno dalam keterangannya, Senin (20/6/2022).

BERITA VIDEO: WARTAKOTA LIVE UPDATE SIANG: Minggu , 19 JUNI 2022

Retno mengamini sistem kerja yang ada saat ini mengharuskan seorang ibu yang baru melahirkan, sebulan sudah langsung bekerja. 

Tuntutan perusahaan itu terkadang menembus hak Ibu untuk mengurus anaknya di masa asi eksklusif. 

"Banyak perempuan pekerja yang mengambil cuti menjelang melahirkan dan sudah bekerja kembali setelah sebulan melahirkan, karena terkadang tuntutan perusahaan. Ini yang mungkin urgen untuk diperbaiki,” ujar Retno. 

Retno menekankan hubungan kedekatan yang intensif antara Ibu dan anak sangat berdampak pada keterikatan Ibu dan bayi. Ini adalah hak yang tak bisa ditawar. 

"Sebab, cuti melahirkan akan sangat berdampak positif bagi keterikatan ibu dan bayi, menurunkan risiko kematian bayi, meningkatkan keberhasilan masa menyusui, dan lain-lain,” pungkas Retno.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved