Kesehatan

BPOM Ungkap 7 Penyakit Akibat Bahan Kimia Bisfenol A (BPA) pada Galon Guna Ulang

Ada 7 penyakit akibat bahan kimia Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang. Hal tersebut disampaikan BPOM, Rita Endang.

Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Istimewa
BPOM Ungkap 7 Penyakit Akibat Bahan Kimia Bisfenol A (BPA) pada Galon Guna Ulang. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - BPOM ungkap 7 penyakit akibat bahan kimia Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang.

Deputi Bidang Pengawasan Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rita Endang, membeberkan tujuh jenis penyakit terkait bahaya bahan kimia Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang yang beredar luas di masyarakat.

"BPA bekerja dengan mekanisme endocrine disruptor, khususnya hormon estrogen," katanya menggambarkan proses terganggunya sistem hormon tubuh akibat BPA yang berpindah dari kemasan pangan.

Baca juga: Anies Ingin Formula E yang Pertama di Indonesia Jadi Kenangan Indah

Berbicara dalam sebuah diskusi terkait perlindungan konsumen air minum kemasan di Jakarta pada Kamis, 2 Juni, Rita menyebut gangguan sistem hormon tersebut utamanya berdampak pada sistem reproduksi, baik pada pria dan wanita.

"Gangguan dapat menyebabkan kemandulan (infertilitas), menurunnya jumlah dan kualitas sperma, feminisasi pada janin laki-laki, gangguan libido, sulit ejakulasi," katanya merinci.

Gangguan lainnya berupa munculnya penyakit tidak menular semisal diabetes dan obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal kronis, kanker prostat dan kanker payudara.

Hal itu berdasarkan kajian referensi standar yang mendasari penyusunan draft regulasi pelabelan risiko BPA pada galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat--pembuatannya menggunakan BPA.

Baca juga: Sempat Dibully, Sandiaga Uno Pastikan Akan Hadir Nonton Formula E Demi Bangkitkan Pariwisata

Selain itu, masih ada efek serius berupa gangguan perkembangan kesehatan mental dan autisme pada anak-anak.

"Data tersebut merujuk pada hasil riset dan kajian di berbagai negara, termasuk dari dalam negeri yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga" kata Rita.

Dalam draft revisi kedua peraturan BPOM tentang label pangan olahan, dipublikasi pertama kali pada November 2021, BPOM mewajibkan produsen air kemasan yang menggunakan galon berbahan plastik polikarbonat untuk memasang label peringatan

"Berpotensi Mengandung BPA", kecuali mampu membuktikan sebaliknya. Draft juga mencantumkan masa tenggang (grace period) penerapan aturan selama tiga tahun sejak pengesahan.

Rita bilang penyusunan draft itu-- saat ini memasuki fase revisi lanjutan di BPOM --antara lain merujuk pada trend pengetatan ambang Tolerable Daily Intake (jumlah BPA yang wajar dikonsumsi tubuh) di sejumlah negara.

"Aturan TDI semakin ketat, termasuk di Eropa" katanya.

Dijelaskan bahwa otoritas keamanan pangan Eropa, EFSA, pada 2010 menetapkan ambang TDI untuk BPA sebesar 50 mikrogram per kilogram berat badan per hari.

Baca juga: Emak-Emak Jambi hingga Cucu Raden Mattaher Deklarasi Dukung Ganjar Maju di Pilpres 2024

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved