Pemilu 2024

Sabang Merauke Institute: Perlawanan Islamopobhia dan Oligarki Harus Berhasil Sebelum Pemilu 2024

Paham Islamophobia dan oligarki menjadi sesuatu yang harus dibasmi dari bumi Indonesia jika ingin jaya di dunia.

Aljazeera
Ilustrasi - Ahmed mengalami trauma berkepanjangan dampak Islamophobia di Amerika Serikat. Paham seperti ini juga harus diatasi di Indonesia sebelum Pemilu 2024. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sabang Merauke Institute mencatat ada dua persoalan yang menjadi momok masyarakat Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.

Dua persoalan itu adalah Islamopobhia dan oligarki. Ini hsrus diatasi jika ingin Indonesia jaya.

Baca juga: Ditantang Anak Ahok Duel Diatas Ring Tinju, Anak Wishnutama: Gue Bakal Bikin Dia Babak Belur!

Direktur Sabang Merauke Institute Syahganda Nainggolan mengatakan, masyarakat Indonesia ingin merasakan adanya perubahan, sehingga dua masalah inti yang mengemuka tersebut sudah harus diputus sampai akarnya.

“Pemulihan sistem demokrasi dan agenda menghancurkan dominasi oligarki dalam tatatan politik harus selesai tahun ini,” kata Syahganda.

Hal itu dikatakan Syahganda saat acara refleksi 24 tahun reformasi bertajuk ‘Menarik Benang Merah Gerakan Mahasiswa dari Masa ke Masa: Perlawanan Terhadap Oligarki?’ yang digelar Masik-ICMI. Acara yang dihadiri para aktivis ini diselenggarakan di KopiBrug, Jalan Tebet Barat Dalam Raya, Tebet, Jakarta Selatan pada Kamis (12/5/2022) malam.

Menurut Syahganda, demokrasi telah dikerdilkan oleh rezim pemerintahan saat ini dengan melakukan gerakan Islamophobia, pemberangusan kebebasan sipil, dan berbagai pelanggaran HAM dan ‘illiberal democracy’. Selain itu, rezim kali ini telah memberikan kedaulatan sepenuhnya pada kelompok oligarki.

Baca juga: El Rumi Akan Hajar YouTuber yang Hina Ahmad Dhani dan Maia Estianty, Siap Tarung Diatas Ring Tinju

“Kaum pemilik modal menguasai seluruh tatatan politik nasional. Termasuk dalam hal mafia minyak goreng, pemerintah gagal melindungi segenap rakyat Indonesia,” ujar Syahganda.

Untuk mengembalikan cita-cita reformasi politik yang diperjuangkan mahasiswa, Syahganda memandang perlu adanya gerakan mahasiswa, buruh dan kaum ulama yang bersatu merebut demokrasi dan menyingkirkan kaum oligarki.

Bagi dia, upaya tersebut mesti terjadi sebelum Pemilu 2024 karena agenda Pemilu ke depan tidak boleh melahirkan sistem demokrasi palsu, sebagaimana yang berjalan saat ini di mana rakyat tidak berdaulat.

“Konkretnya, pemerintah harus dipaksa membebaskan semua tahanan politik, seperti Habib Rizieq, dan lain-lain, melakukan reformasi agraria secara total dan mendorong keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” jelasnya.

Baca juga: Ocehan Hotman Paris Soal Mantan Asprinya yang Menelantarkan Anak Berbuntut Panjang, akan Dipolisikan

Pada kesempatan yang sama, aktivis mahasiswa 98 Joni Sujarman mengatakan, Indonesia sudah 24 tahun mengalami reformasi, namun, hingga saat ini tidak ada perubahan yang signifikan. Salah satunya, negara ini masih dikuasai oligarki.

Menurutnya, gerakan perubahan harus dirancang secara matang. Karena dia menilai, tak akan ada kemajuan bila negara ini dikuasai oligarki.

“Lawan oligarki di jalan, nggak ada cara lain. Anak-anak muda terpelajar harus mengambil peran,” ujarnya.

Sementara itu juru bicara Blok Politik Pelajar Delpedro Marhaen menyesalkan gerakan mahasiswa yang kerap dilakukan belum bisa menghasilkan apapun. “Bahkan dua orang mahasiswa yang meninggal di Kendari juga tidak mengubah apa-apa,” ucap Delpedro.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved