Lebaran

IKAPPI Minta Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Menjelang Idul Fitri

Pedagang di pasar khawatir pada perkembangan harga kebutuhan pokok jelang Idul Fitri, karena itu pemerintah harus membantu.

Warta Kota
Ilustrasi - Para pedagang kebutuhan pokok khawatir akan perkembangan harga jelang Lebaran, sebab bisa meresahkan masyarakat. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) mengingatkan akan ada tahapan kenaikan permintaan yang berimbas meningkatnya harga bahan pokok dalam waktu dekat menjelang Hari Raya idul Fitri 1443 H.

Wasekjend Bidang Pembinaan & Pendidikan Pedagang Pasar DPP IKAPPI Choirul Furqon menjelaskan pada fase pertama Ramadan kenaikan harga bahan pokok hampir tidak terkendali.

Baca juga: Jelang Pensiun, Anies Baswedan Ingin Menjadikan Jakarta sebagai Kota Tangguh Menghadapi Tantangan

"Kita harus bersyukur bahwa kemarin kita telah melewati fase pertama bulan Ramadhan. Dalam fase ini terlihat jelas bahwa kenaikan harga pangan pokok sangat terlihat dan hampir tidak terkendali," ucap Furqon dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/4/2022).

Menurutnya, saat ini sedang menjalani fase kedua sampai 3 hari menjelang hari raya.

Ia menilai pada waktu transisi fase pertama dan kedua, terjadi penurunan permintaan di waktu pertengahan Ramadan. Harga pangan akan mengalami lonjakan tinggi di penghujung Ramadan menuju hari kemenangan itu.

"Kita harus sadar bahwa saat ini sedang memasuki fase dingin harga komoditas pangan. Namun jangan dilupakan bahwa menjelang Idulfitri masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan bahwa pedagang dan masyarakat mempersiapkan beragam macam hidangan, hal ini menjadikan munculnya permintaan yang tinggi dan lonjakan harga akan terjadi," jelas dia.

Baca juga: Ivan Gunawan Kembalikan Uang Rp 921 Juta ke Polisi karena Menjadi Ambassador DNA Pro

Pria kelahiran Kabupaten Rembang ini juga mengingatkan adanya fluktuasi harga ini wajar, namun harus tetap diwaspadai.

"Fluktuasi harga ini sangat wajar karena berkaitan dengan proses supply and demand. Namun pemerintah juga harus sadar, fase setiap tahun ini harus selalu diwaspadai," ucapnya.

"Maka pemerintah harus mempersiapkan ketersediaan bahan pangan yang saat ini setoknya minim. Jangan sampai nanti terlupakan dan menjadikan adanya kelangkaan barang, itu akan membuat harga terbang," jelas dia.

Data Pangan Semerawut

Baca juga: Prilly Latuconsina Bertemu Lagi dengan Aliando Syarief, Mengapa Tidak Saling Bertegur Sapa?

Pihaknya, kata dia, tengah memberikan sorotan terhadap data pangan di Indonesia.

"Saat ini data pangan nasional kita dapat dikatakan masih semerawut atau tidak satu pintu. Padahal, ketahanan pangan ini adalah isu prioritas nasional, apabila data masih belum terpusat tentu akan kesusahan untuk pengambilan kebijakan," paparnya.

Sehingga, DPP IKAPPI berharap data tidak tumpang tindih dan terpusat kepada satu lembaga.

"Kami DPP IKAPPI sangat berharap pemerintah dapat memusatkan data pangan nasional ke satu lembaga saja. Ini bertujuan agar tidak terjadi overlapping data antar lembaga, jika ini dapat dilakukan tentu akan sangat mempermudah kinerja pemerintah," jelas Furqon.

Dia berharap Badan Pangan Nasional (BPN) menjadi satu-satunya lembaga yang menghimpun data ketersediaan pangan nasional.

Baca juga: Satpol PP Kecamatan Kalideres Grebek Kamar Kost Tiga Pasangan Kumpul Kebo Dibawa ke Dinsos

"Kami berharap Badan Pangan Nasional (BPN) sebagai lembaga baru yang berkoordinasi dengan Presiden secara langsung menjadi sebuah badan rujukan data ketersediaan pangan nasional. Apabila ini terjadi tentu pemerintah sebagai decision maker akan lebih mudah dalam merumuskan kebijakan," tutupnya.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved