Bulan Suci Ramadan

MUI Bolehkan Penjual Makanan Buka Saat Ramadan, Asal Jangan Transparan

Meski begitu, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan meminta waktu pembukaan restoran atau warung makan diatur.

Editor: Yaspen Martinus
Kompas/Danu Kusworo
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempersilakan pedagang makanan tetap buka saat Bulan Ramadan. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempersilakan pedagang makanan tetap buka saat Bulan Ramadan.

Meski begitu, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan meminta waktu pembukaan restoran atau warung makan diatur.

"Berdagang boleh, tinggal momentumnya saja diatur," ujar Amirsyah di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (28/3/2022).

Baca juga: Kadiv Humas: 98 Persen Belanja Barang-barang Polri Menggunakan Produk Dalam Negeri

Amirsyah mengatakan, biasanya mencari makanan untuk berbuka puasa adalah dua jam sebelum Azan Magrib.

Menurutnya, pengaturan waktu dapat menjadi jalan tengah agar rumah makan tetap buka saat Ramadan.

"Biasanya kalau kita lihat orang cari bukaan itu, mulai dua jam sebelum berbuka."

Baca juga: Ganti Gorden di Rumah Dinas DPR Rp48,7 Miliar, Formappi: Dukung Produk Dalam Negeri Harus Boros?

"Itu kan bagus demikian. Ini kesempatan untuk mendorong industri yang halal dan thoyib," tutur Amirsyah.

Namun, Amirsyah meminta dicarikan jalan keluar agar tidak menyulitkan masyarakat yang tak berpuasa dalam mencari makanan.

"Ya supaya tak ada kesan menyulitkan, menurut hemat saya dicari strateginya, dibuat momentum yang pas ya."

Baca juga: Sekjen PDIP: Setop Wacana Tunda Pemilu 2024 yang Tidak Produktif, Mari Gotong Royong Bantu Rakyat

"Sehingga di satu sisi tak mengganggu orang yang sedang berpuasa."

"Di sisi lain, penjual makan bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan," papar Amirsyah.

Dirinya meminta agar pembukaan restoran atau tempat makan saat Ramadan tidak dilakukan secara transparan.

Baca juga: Jawab Isu Tunda Pemilu 2024, Sekjen PDIP: Kami Tidak akan Jilat Ludah Sendiri

Menurutnya, pembukaan tempat makan tidak boleh mengganggu Umat Islam yang berpuasa.

"Yang tidak boleh kan transparan membuka seolah-olah tak ada puasa, tak memberi penghargaan kepada masyarakat."

"Pokoknya bagaimana caranya biar enggak mengganggu, kan ada cara yang lebih arif dan bijak," beber Amirsyah. (Fahdi Fahlevi)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved