Kasus Rizieq Shihab

Urusan Jaksa, Kuasa Hukum Keluarga Enam Anggota FPI Tak Banding Vonis Bebas Terhadap Dua Terdakwa

Terkait putusan ini, Aziz menyatakan, pihaknya telah menduga proses persidangan sesat dan tak masuk akal.

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
Aziz Yanuar, tim kuasa hukum keluarga almarhum enam anggota Front Pembela Islam (FPI) yang ditembak di rest area KM 50 Cikampek, menyatakan pihaknya tak akan meminta jaksa penuntut umum (JPU) mengajukan kasasi. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Aziz Yanuar, tim kuasa hukum keluarga almarhum enam anggota Front Pembela Islam (FPI) yang ditembak di rest area KM 50 Cikampek, menyatakan pihaknya tak akan meminta jaksa penuntut umum (JPU) mengajukan banding.

Hal itu terkait putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memvonis bebas kedua terdakwa, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella.

Aziz menyebut, upaya lanjutan atas proses hukum itu merupakan kewenangan jaksa.

Baca juga: Novel Baswedan: Sejak Awal 2020 Mata Kiri Saya Akhirnya Buta Permanen

"Tidak (mengajukan permintaan kepada jaksa), itu jaksa urusannya," ujar Aziz kepada Tribunnews, Jumat (18/3/2022).

Terkait putusan ini, Aziz menyatakan, pihaknya telah menduga proses persidangan sesat dan tak masuk akal.

Dirinya juga meyakini proses persidangan atas perkara ini hanya dijadikan sebagai instrumen untuk mempertimbangkan adanya dugaan pembunuhan.

Baca juga: Arab Saudi Eksekusi Mati Dua WNI Atas Kasus Pembunuhan Sesama Warga Indonesia

"Kita sudah jauh hari menduga sejak awal, itu sesat dan dijadikan instrumen untuk menjustifikasi dugaan pembunuhan," ucap Aziz.

Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis bebas kepada Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella, terdakwa dugaan tindak pidana pembunuhan di luar hukum alias unlawful killing terhadap enam anggota FPI.

Sidang digelar pada Jumat (18/3/2022), di ruang sidang utama Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Baca juga: Perludem Nilai Usulan Penundaan Lebih Tepat Disebut Sebagai Upaya Penggagalan Pemilu

Kedua terdakwa hadir secara virtual bersama tim kuasa hukum.

Dalam putusannya, ketua majelis hakim PN Jakarta Selatan Arif Nuryanta menyatakan, kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama, sehingga membuat orang meninggal dunia.

"Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagiamana dakwaan primer penuntut umum," kata hakim Arif dalam sidang putusan.

Baca juga: Tak Puas dengan Jawaban Jokowi, Megawati: Stunting Harusnya Tidak Ada di Republik Ini, Titik!

Hakim menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kendati begitu, dalam putusannya hakim mendapati adanya alasan pembenar dan pemaaf, sebagaimana yang dilayangkan oleh tim kuasa hukum terdakwa dalam nota pembelaan alias pleidoi.

Atas dasar itu, hakim menjatuhkan vonisnya kepada anggota Polri aktif itu dengan hukuman bebas alias tidak dipidana.

Baca juga: Jumlah Orang yang Dites Covid-19 Turun 52 Persen Sejak Syarat Wajib Tes PCR Atau Antigen Dihapus

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved