Lifestyle

Pemanfaatan Telemedicine pada Penyandang Diabetes Melitus membuat Gula Darah lebih Terkontrol

Pemanfaatan telemedicine untuk penyandang penyakit Diabetes Melitus (DM) dapat lebih membuat gula darah lebih terkontrol.

istimewa
Konsultasi dan mengukur gula darah secara teratur dapat mengurangi risiko komplikasi akibat diabetes melitus 

WARTAKOTALIVE.COM. JAKARTA - Pemanfaatan telemedicine untuk penyandang penyakit Diabetes Melitus (DM) dapat lebih membuat gula darah lebih terkontrol.

Bila dibandingkan konsultasi ke dokter yang membutuhkan usaha lebih dan tidak bisa setiap saat. 

Dari penelitian yang dilakukan Good Doctor, dengan telemedicine telah membuat penyandang lebih perhatian dengan penyakitnya sehingga gula darah menjadi lebih terkontrol. 

Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) mengatakan, DM merupakan penyakit kronis yang sifatnya tidak berubah setiap saat, bukan harian, maka tepat sekali untuk menerapkan pelayanan telemedicine pada pasien-pasien DM.

Baca juga: Waspada Jika Suka Kebas dan Kesemutan, Itu Indikasi Sakit Diabetes, Ini Cara Mencegahnya

“Saya yakin bahwa telemedicine juga memperbaiki sekaligus mempercepat akses layanan kesehatan, terutama bagi mereka dengan berbagai kendala,” kata Prof Ketut, Jumat (11/2/2022).

“Kami pernah membuat studi bahwa sekumpulan pertanyaan yang baik bisa memberikan diagnosis yang akurat sekitar 60 persen.  Jadi, dengan telekonsultasi saja sebenarnya sebagian besar pertanyaan sudah bisa dijawab,” kata  dr. Aditiawarman Lubis, MPH, Anggota Bidang Riset dan Publikasi Ilmiah Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Pemeriksaan hanya bersifat menunjang. Jika diperlukan bisa diajukan rujukan.

Head of Medical Good Doctor Technology Indonesia (GDTI), dr. Adhiatma Gunawan, menyatakan telemedicine tidak bisa menyelesaikan 100 persen masalah.

Baca juga: Terapi Pijat dan Obat Untuk Penanganan Diabetes 

“Secara mayoritas kami dapat memberikan analisis. Untuk DM relatif bisa karena tidak fluktuatif setiap hari. Apalagi jika dikaitkan dengan pemantauan gula darah. Alat-alat seperti self monitoring blood glucose meters dapat dilakukan sendiri di rumah. Nanti hasilnya tinggal dikonsultasikan dengan dokter,” imbuhnya.

Selain intervensi layanan kesehatan digital untuk manajemen penyakit kronis yang lebih efektif, telemedicine telah terbukti membantu orang dalam mencapai tujuan kesehatan mereka dengan mempertahankan status kesehatan mereka.

Sementara itu, penyakit DM di Indonesia terus meningkat.

Data International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021 menunjukkan jumlah penyandang  diabetes di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 19,47 juta orang.

Banyak orang tidak menyadari terkena diabetes sehingga berpotensi terkena komplikasi
Banyak orang tidak menyadari terkena diabetes sehingga berpotensi terkena komplikasi (pexels/photomix-company)

Menempatkan Indonesia pada posisi kelima sebagai negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak.

Permasalahan terkait penyakit DM saat ini adalah sebagian besar (sekitar 3 di antara 4 orang) penyandang DM tidak menyadari kalau dirinya menderita penyakit DM dan kurangnya kesadaran para penyandang  ini untuk melakukan kontrol berkala.

Ketua Pengurus Besar IDI, dr. Daeng M. Faqih, SH, MH dalam suatu diskusi kesehatan yang diselenggarakan Lembaga Riset Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan, ada dua hal yang perlu digarisbawahi terkait pelayanan penyakit kronis.

Pertama, rata-rata penyakit kronis lebih banyak menghabiskan pembiayaan di BPJS dan lebih rumit pelayanannya.

Baca juga: Jangan Menyalahkan Keturunan! Bisa Kena Diabetes atau Tidak, Diri Sendiri yang Menentukan

 Apalagi penyakit kronis yang tidak rutin diobati akan menjadi lebih berat, menyerap banyak pembiayaan di BPJS serta pelayanannya lebih kompleks.

Kedua, penyakit kronis mempercepat timbulnya penyakit berikutnya yang masuk ke keranjang penyakit degeneratif.

“Kalau kondisi kronis sudah masuk ke penyakit yang bersifat degeneratif, akan menurunkan kondisi sel-sel tubuh dan menurunkan fungsi sel tubuh tersebut yang menyebabkan produktivitas penyandang jauh menurun,” katanya.

Prevalensi DM yang terus meningkat berkontribusi terhadap peningkatan pembiayaan BPJS.

Baca juga: Penemuan Insulin 100 Tahun lalu, Tonggak Pengobatan Diabetes, Namun Jumlah Penderitanya Kian Banyak

Dilansir dari sehatnegeriku, total biaya penyakit katastropik pada rentang waktu 2014—2016 mencapai Rp 36,3 triliun atau 28 persen dari total biaya pelayanan kesehatan rujukan.

Peringkat biaya teratas diduduki oleh hipertensi dengan jumlah biaya Rp 12,1 triliun, disusul dengan diabetes mellitus sebesar Rp 9,2 triliun, penyakit jantung koroner sebesar Rp 7,9 triliun, dan gagal ginjal kronis sebesar Rp 6,8 triliun.

Padahal, faktor kunci dalam pengelolaan penyakit kronis adalah kepatuhan pasien terhadap pengobatan.

dr. Adhiatma Gunawan, menyatakan, telemedicine berpotensi untuk membantu mendorong perkembangan kesehatan pasien, dan bahkan dapat menekan serta mengurangi biaya perawatan kronis BPJS dalam jangka Panjang.

Baca juga: Jangan Biarkan Berat Badan Terus Bertambah, Obesitas Pintu Masuk untuk Diabetes

Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan Gooddoctor pada Desember lalu.  

Rata-rata kadar gula darah kelompok kontrol atau yang tidak menginstal aplikasi Good Doctor lebih tinggi dibandingkan kelompok yang menginstal aplikasi Good Doctor (treatment).

Dalam studi ini, ditemukan korelasi antara manajemen klinis dan tingkat kepatuhan pengobatan pasien, yang sejalan dengan meningkatnya penggunaan telemedicine dan hasil yang lebih baik. (*)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved