Kajian Islam

Kapan Waktu Tepat Wanita Shalat Zuhur? Apakah Menunggu Pria Pulang Shalat Jumat?

Aturan shalat zuhur bagi wanita di hari Jumat, apakah menunggu setelah Shalat Jumat selesai atau bisa dilakukan setelah azan zuhur?

Istimewa
Ilustrasi - waktu shalat zuhur wanita saat hari Jumat 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Haruskah wanita menunda shalat zuhur dan menunggu setelah para pria pulang shalat Jumat? 

Aturan shalat zuhur bagi wanita di hari Jumat, apakah menunggu setelah Shalat Jumat selesai atau bisa dilakukan setelah azan zuhur?

Setiap hari Jumat, para para umat Muslim melaksanakan salat jumat di masjid.

Menurut penjelasan Buya Yahya, orang yang tidak wajib salat jumat ada dua yaitu udhur abadi dan udhur yang bisa hilang..

"Dicontohkan udhur abadi itu adalah seorang wanita akan tetap wanita, tidak ada perubahan kecuali dikatakan nanti pukul 15.00 berubah menjadi pria," ujar Buya Yahya dikutip Wartakotalive.com dari Youtube Al Bahjah TV, Jumat (26/6/2020).

Baca juga: Penjelasan Buya Yahya Soal Puasa Rajab Masih Ada yang Menganggap Bidah

Sedangkan udhur yang bisa hilang atau berubah adalah ketika sakit. Makanya ketika dia sakit maka salat zuhurnya harus menunggu setelah salat jumat berakhir.

Tapi kalau perempuan tidak akan berubah menjadi laki-laki maka setelah azan boleh langsung salat zuhur. 

"Tetap bisa di awal waktu," tuturnya.

Shalat jumat memang tidak wajib dilakukan bagi para perempuan. Sebagaimana hadis dari Thariq bin Syihab dari Rasulullah Saw. beliau bersabda:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ

Salat Jumat itu suatu hak yang wajib dilakukan bagi setiap laki-laki muslim dengan berjamaah kecuali empat orang, yakni budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang sakit. HR. Abu Daud

Imam An-Nawawi di dalam kitab al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab mengatakan bahwa perempuan adalah salah satu dari kelompok orang yang udzur untuk meninggalkan shalat jumat.

ia dikategorikan dengan orang yang tidak diharapkan hilangnya udzur tersebut.

Berbeda dengan orang sakit dan musafir yang dapat hilang udzurnya setelah sembuh dan ketika tidak berpergian.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved