Advertorial

Jejak Ribuan Tahun Jakarta sebagai Kota Pohon dan Air yang Kini Telah Diambil Manusia Rakus

Tata ruang telah berubah menjadi tata uang. Mulai dari rawa-rawa di utara Jakarta sampai dengan lembah pegunungan di selatan Jakarta dirambah.

Wartakotalive.com/Alex Suban
Suasana Jakarta di Kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. 

WARTAKOTALIVE.COM - Air menjadi tema utama prasasti-prasasti tertua di Indonesia. Tidak terkecuali di Jakarta. Pada 1911, di Kampung Batu Tumbuh dekat Gereja Tugu, Jakarta Utara, ditemukan prasasti yang menceritakan bahwa suatu "kali yang bagus dengan air bersih digali".

“Prasasti dari abad ke-5 ini menyebut Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara yang memerintahkan menggalinya sepanjang 11 km,” sebut Sejarawan JJ Rizal seperti dikutip dari tulisannya yang berjudul Jejak Ribuan Tahun Kota Pohon dan Air, Jumat (4/2/2022).

Prasasti tertua di Jakarta itu sering disebut-sebut memberi penjelasan perihal upaya memanen air untuk menanggulangi banjir saat musim hujan dan menyediakan pasokan air kala musim kering sekaligus juga jalur transportasi perahu dari Kali Cakung ke Kali Bekasi.

Tetapi, jauh lebih luas lagi prasasti itu jika melihat tongkat trisula yang memisahkan awal dan akhir tulisan berhuruf “Wengi” dalam bahasa Sansekerta menyimpulkan leluhur di masa lalu memahkotai air sebagai pusat sesembahan karena merupakan awal dan penggerak kehidupan.

Semua itu bukan sekadar upaya Purnawarman membawa ajaran Hindu bahwa air mengalirkan energi karena di dalamnya bersemayam dewa-dewa. Air pula yang menyimpan kemampuan untuk membasuh mala (nasib buruk) dan klesa (dosa).

Lebih jauh, ia sedang mewanti-wanti bagaimana seharusnya mengelola sebuah kawasan kekuasaannya yang secara geografis adalah ruang air.

Sebab, salah memahami malahan berakibat sebaliknya, bukan nasib baik dan pahala yang datang melainkan nasib buruk dan dosa.

Dalam tulisannya, Rizal menyebutkan, inilah yang terjadi selang seribu tahun kemudian, ketika orang Belanda datang dan membangun kota Batavia di atas reruntuhan kota bandar Jayakarta.

Mereka meminta Simon Stevin, merancang sebuah kota pusat markas dagang VOC dengan mengikut rancangan kota Belanda abad ke-17.

Kota dibuat dengan banyak kanal-kanal yang mengambil air dengan sodetan dari Ciliwung. Kala itu, Batavia dipuja-puji dalam banyak laporan sebagai kotapaling indah.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved