Jumat, 17 April 2026

Vaksinasi Covid19

BPOM Izinkan Sinopharm Jadi Vaksin Booster, Efek Samping Ringan

Vaksin booster ini diperuntukan pada usia dewasa 18 tahun atau lebih, yang telah mendapatkan dosis primer lengkap sekurang-kurangnya 6 bulan.

ISTIMEWA
BPOM menerbitkan Izin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin Covid-19 Sinopharm, sebagai booster atau dosis lanjutan. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan Izin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin Covid-19 Sinopharm, sebagai booster atau dosis lanjutan.

Sinopharm menjadi vaksin Covid-19 keenam yang menjadi booster.

“Sesuai persyaratan penggunaan darurat, Badan POM telah melakukan evaluasi terhadap aspek khasiat dan keamanan."

Baca juga: Ini Dia Penampakan Seragam Baru Satpam, Mirip Polisi India

"Mengacu pada standar evaluasi vaksin Covid-19 untuk vaksin Sinopharm sebagai dosis booster homolog untuk dewasa 18 tahun ke atas.” Ujar Kepala BPOM Penny K Lukito, dikutip dari laman pom.go.id, Rabu (2/2/2022).

Vaksin dengan nama SARS-Cov-2 Vaccine (Vero Cell), Inactivated, produksi Beijing Bio-Institute Biological, Cina ini telah didaftarkan PT Kimia Farma untuk penggunaan booster homolog.

Vaksin booster ini diperuntukan pada usia dewasa 18 tahun atau lebih, yang telah mendapatkan dosis primer lengkap sekurang-kurangnya 6 bulan.

Baca juga: Sehari Tambah 269 Orang, Wisma Atlet Kemayoran Kini Rawat 4.970 Pasien Covid-19, Dominan Perempuan

Berdasarkan aspek keamanan, penggunaan Vaksin Sinopharm sebagai booster umumnya dapat ditoleransi dengan baik.

Frekuensi, jenis, dan keparahan reaksi sampingan atau kejadian yang tidak diharapkan (KTD) setelah pemberian booster lebih rendah dibandingkan saat pemberian dosis primer.

KTD yang sering terjadi merupakan reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, pembengkakan, dan kemerahan, serta reaksi sistemik seperti sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot, dengan tingkat keparahan grade 1-2.

Baca juga: Tujuh Anggota DPR Positif Covid-19, dari Habiburokhman Hingga Meutya Hafid

Dari aspek Imunogenisitas, peningkatan respon imun humoral untuk parameter pengukuran antibodi netralisasi dan anti IgG masing-masing sebesar 8,4 kali, dan 8 kali lipat dibandingkan sebelum pemberian booster.

Respons imun setelah pemberian booster ini lebih tinggi dibandingkan respons imun yang dihasilkan saat vaksinasi primer.

“Persetujuan EUA Vaksin Sinopharm ini menambah alternatif vaksin booster homologus untuk platform inactivated virus," imbuh perempuan berhijab ini.

Baca juga: Total Sembilan Anggota DPR Positif Covid-19, 80 PPNS dan Tenaga Ahli Juga Kena

BPOM menyampaikan apresiasi kepada Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19, termasuk ahli di bidang farmakologi, metodologi penelitian dan statistik, epidemiologi, kebijakan publik, imunologi, kemudian ITAGI.

Serta, asosiasi klinisi, atas kerja samanya yang memungkinkan vaksin ini segera rilis ke masyarakat.

Masyarakat diimbau selalu menerapkan protokol kesehatan dan menyukseskan vaksinasi sebagai upaya kunci dalam memutus rantai penyebaran Covid-19.

Baca juga: Lindungi Kerahasiaan Data Puluhan Ribu Dokter, Aplikasi Ini Diganjar Sertifikasi ISO 27001

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk bijak dan berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan yang digunakan dalam penanganan Covid-19.

Serta, tidak mudah terpengaruh dengan promosi produk obat, obat tradisional maupun suplemen kesehatan dengan klaim dapat mencegah atau mengobati Covid-19. (*)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved