Berita Nasional

Polri Akan Petakan Masjid untuk Cegah Radikalisme, JK: Tak Ada yang Mengacau Negara Lewat Masjid

JUsuf Kalla menegaskan, tidak ada paham radikalisme yang pernah mengacau negara lewat masjid.

Editor: Feryanto Hadi
Kompas.com
Jusuf Kalla merespon rencana Polri yang akan memetakan masjid 

Sebaliknya, jika memang ada yang bicara di masjid ingin memberontak pada negara. JK mempersilakan pemerintah untuk bertindak tegas.

"Silakan ditangkap. Tapi tidak secara umum masjid begitu," tegas Jusuf Kalla.

Seperti diketahui, Mabes Polri menyatakan akan memetakan masjid-masjid di Indonesia.

Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Polri, Brigjen Pol Umar Effendi mengatakan, pemetaan msjid merupakan salah satu upaya menangkal paham ekstremisme dan radikalisme.

Baca juga: Sejarah Imlek di Indonesia, Dilarang Seoharto usai Tragedi G30S/PKI, Diizinkan Kembali di Era Gusdur

Hal itu disampaikan dalam agenda Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang digelar MUI, Rabu, (26/01/2022), lalu

Dalam tayangan tersebut Umar tak merinci masjid mana saja yang masuk dalam pemetaan Polri. Dia hanya mengatakan ada masjid yang cenderung 'keras'.

"Masjid warnanya macam-macam ada yang hijau, ada yang keras, ada yang semi keras dan sebagainya. Ini jadi perhatian kita semua," kata dia.

Disebutkan bahwa beberapa masjid dianggap sering menjadi tempat penyebaran paham radikal.

Merujuk hasil riset dari Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Rumah Kebangsaan yang diterbitkan Juli 2018 lalu, sebanyak 41 dari 100 masjid kantor pemerintahan di Jakarta terindikasi paham radikal.

Umar mengatakan penyebaran paham terorisme di Indonesia saat ini dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu yang marak yakni lewat media sosial.

Baca juga: 14 Tahun Wafatnya Soeharto, Mengenang Masa Kecil, Karier Militer hingga Keberanian Bubarkan PKI

Menurut dia, media sosial punya kerawanan tinggi ketimbang media konservatif lainnya. Pasalnya, siapa saja bisa menuliskan pandangannya di Medsos, termasuk dari kelompok terorisme hingga mendapat simpati.

"Bisa lewat chat medsos, hoaks blasting penyebaran kebencian, dan angkat isu kegagalan program pemerintah. Karena siapa saja dapat jadi penulis untuk publish apa yang diinginkan," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved