Ujaran Kebencian

Ogah Didampingi Kuasa Hukum Sejak Awal Sidang, Ini Alasan Yahya Waloni

Waloni melayangkan permohonan maaf kepada Umat Kristen dan masyarakat Indonesia, karena telah membuat kegaduhan.

Editor: Yaspen Martinus
Istimewa via Tribun Timur
Terdakwa kasus dugaan ujaran kebencian Muhammad Yahya Waloni, membeberkan alasan tak mau didampingi kuasa hukum. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Terdakwa kasus dugaan ujaran kebencian Muhammad Yahya Waloni, membeberkan alasan tak mau didampingi kuasa hukum.

Waloni mengaku ingin bertanggung jawab dalam perkara yang menjeratnya.

Pernyataan itu diungkapkan Waloni dalam sidang beragendakan pembacaan nota pembelaan alias pleidoi, atas tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Baca juga: Molnupiravir dan Paxlovid Siap Dipakai Tahun Depan, Khusus Pasien Covid-19 Berkategori Sehat

"Dari awal saya tidak mau menggunakan penasihat hukum, karena saya tahu ini bahwa (perkara) ini saya yang melakukannya," kata Waloni.

Dia juga menyadari, isi ceramah yang dilakukannya di Masjid Jenderal Sudirman World Trade Center Jakarta yang menyakiti perasaan Umat Kristen, telah melampaui etika.

Padahal, dirinya menyadari Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi sopan santun.

Baca juga: Jabatan Pangkostrad Masih Kosong Dinilai Bisa Ganggu Regenerasi dan Munculkan Spekulasi Politik

"Sehingga setinggi apapun ilmu seorang pendakwah, apabila telah melewati batas-batas beretika di masyarakat, maka percuma dakwah itu."

"Tidak bermanafaat bagi kesinambungan, kelangsungan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara," tuturnya.

Atas hal itu, Waloni melayangkan permohonan maaf kepada Umat Kristen dan masyarakat Indonesia, karena telah membuat kegaduhan.

Baca juga: Jabatan Pangkostrad Masih Kosong, Panglima TNI Bilang Masih Tunggu Sidang Wanjakti

Dalam perkara ini, Yahya Waloni tidak didampingi penasihat hukum sejak awal proses persidangan berlangsung.

Selama persidangan, Waloni juga tidak dihadirkan secara langsung, melainkan hanya melalui sambungan virtual dari Rumah Tahanan (Rutan) Mabes Polri.

Dituntut 7 Bulan Penjara dan Denda Rp50 Juta

Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut hukuman 7 bulan penjara dan denda Rp50 juta subsider 1 bulan penjara kepada Muhammad Yahya Waloni, terdakwa kasus dugaan penistaan agama serta ujaran kebencian.

Pembacaan tuntutan itu dilakukan dalam sidang lanjutan yang digelar di ruang sidang Kusumah Atmadja Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (28/12/2021).

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved