KPAI Catat 17 Kasus Kekerasan Anak di 2021, Ada Siswa Meninggal Dianiaya Guru dan Lumpuh Dikeroyok

"Seluruh kasus yang tercatat melibatkan sekolah-sekolah dibawah kewenangan KememndikbudRistek," katanya.

KPAI
Komisioner KPAI Retno Listyarti saat bertemu keluarga almarhum WJ, siswa korban kekerasan senior di SMA TI Palembang. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Jika kekerasan seksual anak sepanjang 2021 di satuan pendidikan tercatat ada 18 kasus oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), maka untuk kasus kekerasan fisik, perundungan dan pembullyan di satuan pendidikan KPAI mencatat 17 kasus sepanjang 2021.

Hal itu dikatakan Komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/12/2021).

"Berdasarkan pemantauan media dan pengawasan perundungan di satuan pendidikan sepanjang 2021, KPAI mencatat ada 17 kasus kekerasan yang melibatkan peserta didik dan pendidik. Ada yang terjadi dilingkungan satuan pendidikan, namun ada juga di luar satuan pendidikan tetapi melibatkan peserta didik dari sekolah yang sama, misalnya kasus tawuran antar pelajar.Pengumpulan data mulai 2 Januari sampai 27 Desember 2021," kata Retno.

Ia menjelaskan kasus-kasus kekerasan fisik atau perundungan dan pembullyan di satuan pendidikan terjadi di sejumlah daerah mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai SMA/SMK.

"Seluruh kasus yang tercatat melibatkan sekolah-sekolah dibawah kewenangan KememndikbudRistek," katanya.

Adapun wilayah kejadian kata Retno pada 11 provinsi yang meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah istimewa Yogjakarta (DIY), DKI Jakarta, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi tenggara, Kalimantan Utara, NTT, NTB dan Sumatera Selatan.

Sedangkan kabupaten/kota meliputi Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Bandung, Karawang (Jawa Barat); Kulonprogo dan Bantul (D.I. Yogajakarta); Malang (Jawa Timur); Jakarta Selatan (DKI Jakarta); Tanggerang Selatan (Banten); Kota Batam (Kepri); Bau Bau (Sulawesi tenggara); Kota Tarakan (Kalimantan Utara); Alor (NTT); Dompu (NTB); Musi Rawas (Sumatera Selatan).

Baca juga: Binda Bali Vaksinasi Ratusan Santri di Yayasan Al MaRuf Denpasar

Baca juga: Jabatan Pangkostrad Masih Kosong, Panglima TNI Bilang Masih Tunggu Sidang Wanjakti

Baca juga: Syafrin Liputo Meyakini Temuan Rel Trem Zaman Belanda tak Hambat Proyek MRT Fase 2A

Sedangkan jenis-jenis kasusnya menurut Retno didominasi oleh tawuran pelajaran, dengan rincian kasus kekerasan berbasis SARA (Suku, Agama dan Ras) sebanyak 1 kasus perundungan/pembullyan sebanyak 6 kasus; dan kasus tawuran pelajar sebanyak 10 kasus.

"Ternyata, meski pandemi covid-19, namun tawuran pelajar tetap terjadi. Bahkan menurut data Polres Kota Bogor, terjadi peningkatan jumlah tawuran pelajar sepanjang tahun 2021," ujar Retno.

Sementara itu, pada bulan Januari, Februari dan September, KPAI tidak mencatat ada kasus perundungan di satuan pendidikan. Namun, pada bulan Oktober justru banyak sekali kasus perundungan yang terjadi.

"Para pelaku kekerasan di pendidikan terdiri dari teman sebaya, guru, orangtua, Pembina dan Kepala sekolah. Teman sebaya mendominasi, yaitu ada 11 kasus yang melibatkan teman sebaya, sedangkan pelaku guru ada 3 kasus; dan pelaku pembina, kepala sekolah dan orangtua siswa masing-masing 1 kasus," katanya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendatangi tempat korban persekusi bersekolah di SMK yang terletak di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Jumat (23/8/2019).
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendatangi tempat korban persekusi bersekolah di SMK yang terletak di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Jumat (23/8/2019). (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Baca juga: 2021, Ada 18 Kasus Kekerasan Seksual Anak di Sekolah dan Ponpes, 55 Persen Pelaku Adalah Guru

Baca juga: Jabatan Pangkostrad Masih Kosong Dinilai Bisa Ganggu Regenerasi dan Munculkan Spekulasi Politik

Baca juga: Fachruddin Aryanto Optimistis Timnas Indonesia Mampu Menggulung Thailand di Final Piala AFF 2020

"Adapun korban mayoritas adalah anak, hanya 1 kasus korbannya adalah guru yang mengalami pengeroyokan yang dilakukan oleh orangtua siswa," tambah Retno.

Yang mengenaskan, kata Retno korban ada yang meninggal dan mengalami kelumpuhan.

"Adapun korban meninggal karena tawuran ada 5 orang; karena dianiaya guru ada 1 siswa meninggal; dan 1 siswa di Musi Rawas mengalami kelumpuhan setelah dikeroyok teman sebayanya," ujarnya.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved