Catatan Akhir Tahun

2021, Ada 18 Kasus Kekerasan Seksual Anak di Sekolah dan Ponpes, 55 Persen Pelaku Adalah Guru

Retno menuturkan KPAI mencatat setidaknya ada 18 kasus kekerasan anak yang terjadi di satuan pendidikan sepanjang 2021.

Dok. Humas Kemendikbud
komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti memberikan paparan saat membuka kegiatan Antisipasi Tindak Kekerasan Peserta Didik Jenjang SMP Angkatan III di Jakarta, Selasa (15/9/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai tahun 2021 adalah tahun yang sangat memprihatinkan, karena maraknya kekerasan seksual pada anak yang terjadi di satuan pendidikan yang terungkap ke publik.

Bisa jadi ini merupakan fenomena gunung es.

Bahkan pada penghujung tahun 2021, publik dibuat geram dengan pemerkosaan terhadap para santriwati di Madani Boarding School, Kota Bandung, yang dilakukan oleh seorang pendidik sekaligus pendiri.

Sebanyak 12 santriwati diperkosa hingga hamil dan melahirkan.

Komisioner KPAI, Retno Listyarti, menuturkan pihaknya mencatat setidaknya ada 18 kasus kekerasan anak yang terjadi di satuan pendidikan sepanjang 2021.

Pengumpulan data dilakukan mulai 2 Januari sampai 27 Desember 2021 melalui pemantauan kasus yang dilaporkan keluarga korban ke pihak kepolisan dan diberitakan oleh media massa.

Selama tahun 2021, ada 3 bulan tidak muncul kasus kekerasan seksual di media massa ataupun yang di laporkan kepolisian, yaitu pada bulan Januari, Juli dan Agustus.

Baca juga: Ancol Dituding Utang Rp 1,2 triliun dari Bank DKI demi Formula E, Wagub Ariza Angkat Bicara

Baca juga: Meski Tampak Kesal, Pelatih Dewa United Ucapkan Selamat kepada Persis Solo yang Lolos ke Liga 1

Sedangkan 9 bulan lainnya muncul kasus kekerasan seksual di satuan pendidikan yang dilaporkan ke kepolisian dan diberitakan di media massa.

Dari 18 kasus kekerasan seksual di satuan pendidikan, 4 atau 22,22 persen dari total kasus terjadi di sekolah di bawah kewenangan KemendikbudRistek, dan 14 atau 77,78 persen terjadi di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Agama.

Sedangkan lokasi kejadian meliputi 17 Kabupaten/Kota pada 9 (Sembilan) provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogjakarta, Sumatera Barat, Sumatera Utara. Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Papua. Sedangkan kabupaten/kota meliputi Cianjur, Depok, Bandung, dan Tasikmalaya (Jawa Barat); Sidoarjo. Jombang, Trengalek, Mojokerto dan Malang (Jawa Timur); Cilacap dan Sragen (Jawa Tengah); Kulonprogo (D.I Yogjakarta); Solok (Sumatera Barat); Ogan Ilir (Sumatera Selatan); Timika (Papua); dan Pinrang (Sulawesi Selatan).

Baca juga: Hari Ini Komisi B DPRD Gelar Rapat Terkait Peruntukan Kredit Bank DKI untuk Pembangunan Jaya Ancol

Baca juga: Rans Cilegon FC Tembus ke Liga 1, Raffi Ahmad Keheranan, Tak Targetkan Timnya Lolos Tahun Ini

Mayoritas kasus kekerasan seksual terjadi di satuan pendidikan berasrama atau boarding school.

Yaitu sebanyak 12 satuan pendidikan (66,66%) dan terjadi kekerasan seksual di satuan pendidikan yang tidak berasrama hanya di 6 satuan pendidikan (33,34%).

Kasus kekerasan seksual di satuan pendidikan di bawah kemendikbudristek pun 2 (dua) diantaranya adalah sekolah berasrama, yaitu di kota Medan dan di Batu, Kota Malang.

Pelaku kekerasan seksual terdiri dari pendidik/guru sebanyak 10 orang (55.55%); Kepala Sekolah/ Pimpinan Pondok Pesantren sebanyak 4 orang (22,22%); pengasuh (11,11); tokoh agama (5.56%) dan Pembina Asrama (5.56%).

Baca juga: Dugaan Mafia Tanah di Bukit Duri, Kuasa Hukum Penggugat Yakin Kliennya Menang

Baca juga: Pengerjaan Proyek Saluran Air di Jalan I Gusti Ngurah Rai Durensawit, Molor

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved