Ketum PBNU: Gerakan 212 Bukan Kebangkitan Islam, Masjid Dijadikan Tempat Tidur, Salat di Lapangan

Said Aqil menyebut gerakan 212 atau yang juga dikenal dengan nama Aksi Bela Islam itu, sebagai gerakan politik yang mengatasnamakan agama.

Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menilai aksi 212 yang digelar sejak 2 Desember 2016, bukanlah momentum kebangkitan Umat Islam. 

Said Aqil punya alasan kenapa menolak gerakan tersebut, dan menuding gerakan itu sebagai gerakan politik.

Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 RI 14 Desember 2021: Suntikan Pertama 147.468.396, Dosis Kedua 103.638.318

Salah satunya karena para peserta yang ikut gerakan itu menjadikan masjid sebagai tempat menginap, namun ketika waktu salat datang, mereka malah melaksanakannya di lapangan.

"Kenapa saya menolak? Karena (mereka) tidurnya di masjid, salatnya di lapangan."

"Masjid dijadikan tempat tidur, menunggu Salat Jumat di lapangan. Itu yang tidak benar menurut saya," cetus Said Aqil.

Baca juga: Rusun Nagrak Disiapkan untuk Karantina Orang dari Luar Negeri, Nakes dan Fasilitas Disiapkan

Said mengatakan, dalam momentum politik seperti pilkada dan pemilihan legislatif, ia selalu berusaha menjaga agar NU sebagai organisasi keagamaan bersikap netral.

Namun, hal berbeda terjadi pada momentum pemilihan presiden 2019.

Sebab, saat itu, Rais Aam PBNU Maruf Amin yang dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi petahana Joko Widodo.

"Ada Rais Aam, tidak sembarangan ini, puncak tertingginya NU jadi calon wapres, jadi kita waktu itu sulit untuk menjadikan netralitas di NU," aku Said Aqil. (Dodi Esvandi)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved