Breaking News:

Inflasi

Survei Bank Indonesia, Minyak Goreng dan Cabai Rawit Picu Inlasi Tahun 2021 Sebesar 1,55 Persen

Survei Bank Indonesia menunjukkan komoditas minyak goreng dan cabai rawit merah berperan besar dalam memicu inflasi selama tahun 2021.

Editor: Valentino Verry
Warta Kota/ Rizki Amana
Komoditas minyak goreng ternyata menjadi komponen utama yang memicu inflasi selama 2021. Demikian survei Bank Indonesia (BI). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Bank Indonesia dalam laporannya menyebutkan, berdasarkan survei pemantauan harga minggu pertama Desember 2021, perkembangan harga pada Desember 2021 masih relatif terkendali.

Dengan adanya survei ini, Bank Sentral memperkirakan inflasi terjadi sebesar 0,25 persen (month to month/mtm).

Sementara itu, dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi 2021 sebesar 1,55 persen.

Baca juga: Veronica Maulana tak Bisa Pebaiki Puskesmas Wanakerta Karawang yang Nyaris Roboh, Ini Alasannya

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono mengatakan, penyumbang utama inflasi bulan ini ditempati oleh komoditas cabai rawit dan minyak goreng.

“Penyumbang utama inflasi Desember 2021 sampai dengan minggu pertama yaitu komoditas cabai rawit dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,04 persen (mtm),” jelas Erwin, Jumat (3/12/2021).

“Untuk komoditas cabai merah sebesar 0,02 persen (mtm), telur ayam ras, sawi hijau, kangkung, sabun detergen bubuk dan tarif angkutan udara masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm)," sambungnya.

Dalam survei ini, Bank Indonesia juga mencatat sejumlah komoditas yang mengalami deflasi.

Baca juga: Ahmad Muzani Perintahkan Seluruh Kader Partai Gerindra Main Handphone, Ini Alasannya

Beberapa komoditasnya yakni bawang merah dan daging sapi masing-masing sebesar -0,01 persen (mtm).

Dengan adanya survei pemantauan harga, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

“Serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” pungkas Erwin.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved