Breaking News:

Kriminalitas

Kasus Penyiraman Air Keras di Cianjur Tewaskan Seorang Istri, LPSK Desak APH Agar Pelaku Ganti Rugi

LPSK mendesak aparat penegak hukum memperjuangkan ganti rugi atas kematian W (21) yang disiram air keras oleh suaminya di Cianjur.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Hertanto Soebijoto
Dokumen pribadi
Antonius PS Wibowo, Wakil Ketua LPSK. 

WARTAKOTALIVE.COM, CIRACAS - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk perjuangkan ganti rugi atau restitusi atas kematian W (21) yang disiram air keras oleh suaminya di Cianjur, Jawa Barat.

W merupakan korban KDRT oleh suaminya yang merupakan Warga Negara Asing (WNA).

Wakil Ketua LPSK Antonius PS Wibowo meyakini aparat kepolisian dapat bekerja secara profesional untuk mengusut tuntas perkara itu.

Bahkan aparat kepolisian telah menjalankan Undang-undang yaitu menghadirkan tersangka di persidangan.

Namun, ia berharap pihak keluarga dapat mengajukan permohonan perlindungan ke LPSK.

"Tujuannya adalah agar keluarga korban dapat mengakses hak korban, salah satunya hak atas restitusi atau ganti kerugian dari pelaku," ujar dia, Kamis (2/12/2021).

Baca juga: Kapolri Baru, Novel Baswedan Berharap Aktor Intelektual Kasus Penyiraman Air Keras Terungkap

Baca juga: Pelaku Penyemprotan Pesepeda Perempuan Seorang Pria Patah Hati, Bantah Semprot Pakai Air Keras

Antonius juga meminta kepada APH yang menangani perkara ini untuk ikut dalam serta perjuangkan restitusi bagi keluarga korban.

Sebab, restitusi yang diterima oleh keluarga korban karena pelaku sudah menghilangkan kekayaan atau penghasilan, penderitaan akibat kejahatan, dan biaya rawat medis dan atau psikologis.

Menurut dia, LPSK sebagai representasi negara memiliki beberapa program perlindungan yang dapat diakses saksi dan korban tindak pidana, termasuk dalam tindak pidana KDRT.

"Kami saat ini memberikan perlindungan bagi 19 Terlindung pada kasus KDRT, mereka tersebar di beberapa provinsi, antara lain Jawa Barat enam terlindung, DI Yogyakarta empat terlindung, Jawa Timur tiga terlindung, Sumatera Utara, DKI Jakarta serta Papua Barat masing-masing dua terlindung," tutur dia.

Baca juga: Motif Pelaku Penyemprotan Air Keras ke Pesepeda Wanita Terungkap, Berikut Penjelasan Lengkap Polisi

Data tersebut diungkap sepanjang Januari hingga Agustus 2021 lalu dan 19 terlindung terbagi dalam kategori berstatus korban, dua terlindung berstatus saksi dan enam terlindung lainnya berstatus keluarga korban.

"Kami harap APH dapat terus memberikan efek jera kepada pelaku KDRT," jelas dia. (m26)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved