Universitas Indonesia

Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Kini Penerangan Universitas Indonesia Ditenagai Biogas

Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Kini Penerangan Universitas Indonesia Ditenagai Biogas

Penulis: resign | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota
Peresmian PLTSa dilakukan di Balai Sidang Kampus UI, Depok, Jawa Barat pada Rabu (1/12/2021).  

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Universitas Indonesia (UI) Universitas Indonesia (UI) kini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebesar 234 kWh berkat kerja sama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA) UI dengan PT Paiton Energy melalui program Waste to Energy CSR Project.

Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Abdul Haris, secara singkat cara kerja PLTSa yakni mengonversi sampah organik menjadi biogas yang kemudian diolah menjadi energi listrik.

"Artinya kalau kita bisa menangani sampah, mengurangi dan memanfaatkan itu adalah upaya kita untuk menuju Green Energy. Karena basis energi yang dihasilkan berasal dari sampah," kata Haris saat ditemui di Laboratorium Parangtopo UI pada Rabu (1/11/2021).

Lebih lanjut, kata Haris, PLTSa yang sudah digarap sejak tahun lalu ini masih dalam tahap pengembangan. 

Selain menghasilkan listrik, proses PLTSa juga menghasilkan kompos organik yang akan dikomersilkan maupun diberikan kepada komunitas-komunitas tanaman.

"Terus terang untuk mencari sampah organik itu gak mudah kan, jadi misalnya kumpulan dari sampah makanan. Mungkin barangkali tangki septik di UI diubah semua jadi model tabung ini agar langsung bisa dikonversi menjadi biogas," sambung Haris.

Sementara itu, menurut salah satu anggota Tim Peneliti PLTSa UI, Munawar Khalil, mengatakan 1 reaktor dalam bentuk tabung bisa mengolah 250 kg sampah organik.

Baca juga: Hadapi Persaingan Era Industri 4.0, Universitas Indonesia Terapkan Evaluasi Kurikulum Adaptif

Baca juga: Terapkan Program MBKM, Universitas Indonesia Bebaskan Mahasiswa Ambil 60 SKS di Luar Program Studi

"1 reaktor ini 10 meter kubik, bisa mengolah 250 kg sampah organik per hari. Kalau ada 8 berarti sekitar 2 ton yang bisa diolah per harinya," kata Khalil.

Khalil menambahkan, besarnya daya listrik yang dihasilkan oleh PLTSa tergantung pada jenis sampah organik yang digunakan.

"Tergantung apa yang diolah, apakah ranting, kotoran hewan, sampah organik dari makanan itu sangat mempengaruhi kualitas biogas yang dihasilkan," sambung Khalil.

Selain jenis sampah, ada satu faktor lain yang mempengaruhi daya listrik yang dihasilkan, yakni kondisi cuaca. Menurut Khalil, semakin panas cuaca maka semakin baik bakteri pengolah biogas yang dihasilkan.

"Sekitar 24 jam sebenarnya sudah bisa menghasilkan listrik. 1 meter kubik gas itu bisa menghasilkan listrik 2 kwh," jelas Khalil.

Saat ini, listrik yang dihasilkan oleh PLTSa sudah bisa dimanfaatkan oleh civitas akademica UI. Namun, ujar Khalil, pasokan daya listrik yang dihasilkan hanya bisa digunakan untuk penerangan Laboratorium Parangtopo dan penerangan jalan.

"Kalau sampai penerangan ke ruang kelas enggak bisa ya. Karena dayanya kan tidak terlalu besar, karena ini skala kecil. Kalau untuk penerangan jalan mungkin bisa tapi kalau untuk sampai kegiatan kuliah masih belum, perlu daya yang besar," pungkas Khalil. (m29)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved