11 Anak Perempuan Dipaksa Video Call Sex dan Kirim Foto Asusila, Ini Penjelasan KPAI

Sedikitnya 11 anak perempuan berusia 9-17 tahun menjadi korban S. Mereka dipaksa melakukan video call sex (VCS)

Warta Kota/Muhammad Azzam
Ketua Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti saat mendatangi lokasi guru pukuli siswa di SMA Negeri 12, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Jumat (14/2/2020) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri membekuk predator seksual anak, S (21) dengan modus iming-iming top-up diamond game online Free Fire, sekaligus mengancam penghapusan game tersebut.

Sedikitnya 11 anak perempuan berusia 9-17 tahun diketahui menjadi korban S. Mereka dipaksa melakukan video call sex (VCS) dengan S, atau dipaksa mengirim foto dan video asusila sang anak ke S.

Dibekuknya S di Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kaltim, diakui Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Kombes Reinhard Hutagaol, adalah berdasarkan laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan pihaknya menyampaikan keprihatinan atas kasus kejahatan siber yang menimpa anak-anak usia 9-11 tahun.

Dari aktivitas menggunakan game online untuk hiburan ternyata memungkinkan pelaku dapat mengakses nomor handphone atau nomor WhatsApp anak korban.

"Disinlah anak sangat perlu didampingi orangtua dalam melakukan komunikasi dengan orang asing di dunia maya. Anak-anak harus dibekali pengetahuan ketika menggunakan internet, media sosial, termasuk aplikasi game online," kata Retno, Rabu (1/12/2021).

KPAI kata Retno mengapresiasi Bareskrim atau Kepolisian RI yang sudah berhasil mengungkap kasus ini dan menangkap terduga pelaku, serta memeriksa 4 saksi dalam kasus ini.

"Kekerasan seksual pada anak terjadi karena anak adalah pihak yang tidak berdaya, rentan menjadi korban manipulasi dan iming-iming pelaku. Anak masih membutuhkan orang dewasa untuk mengarahkan dan mengambil keputusan," kata Retno. 

"Dalam kasus ini iming-iming pelaku kepada anak korban adalah memberikan 500-600 diamond game Free Fire, yang nilainya hanya sekitar Rp 100 ribu, jika korban bersedia difoto telanjang. Diamond adalah alat transaksi dalam game untuk meningkatkan performa permainan," katanya.

Baca juga: Beradar Surat Masjid Az-zikra Sentul Tak Beri Izin Gelaran Reuni 212

Baca juga: Pola Permainan Pas Jadi Kunci Kemenangan Greysia/Apriyani Tundukkan Jongkolphan/Rawinda

Baca juga: Munarman Minta Sidang Kasusnya Digelar Offline Bukan Virtual

Menurut Retno, korban sempat menolak ketika diminta berfoto telanjang atau saat video call, namun pelaku mengancam akan menghilangkan akun game korban.

Sehingga korban tidak akan bisa main aplikasi game online Free Fire.

"Ini adalah modus pelaku, jika tidak bisa dibujuk maka anak-anak usia 12 tahun ke bawah biasanya akan diancam. Karenanya korban tidak menceritakan ancaman itu kepada  orang dewasa di rumahnya, maka ancaman itu pun berhasil dijakan alat bagi pelaku. Disinilah pentingnya mengedukasi dan mebiasakan anak, agar berani berbicara atau Speak up," kata Retno.

Baca juga: Ridwan Kamil Batalkan Kenaikan UMK Karawang 2022, Apindo: Pekerja di Atas Satu Tahun Tetap Naik Gaji

Baca juga: Kongres ke-V JKPI Digelar, Bima Arya Ungkap 32 Kepala Daerah hingga Menteri Akan Hadir

Baca juga: Pelatih Bhayangkara FC Paul Munster Menilai Tidak Mudah Mengalahkan Persipura yang Sedang Onfire

Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Kombes Reinhard Hutagaol, mengatakan S (21) disebut memaksa sejumlah anak perempuan di bawah umur mengirimkan video asusila dengan iming-iming top-up sekaligus mengancam penghapusan game daring Free Fire.

Usai menangkapnya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, polisi menyebut ada 11 anak umur 9-17 tahun yang diduga menjadi korbannya. 

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved