Breaking News:

Sandiaga Uno Kunjungi Wakatobi, Walaupun Hanya 30 Menit, Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Sandiaga mengapresiasi hasil kerajinan souvenir itu karena merupakan salah satu hal yang masuk dalam ekonomi kreatif.

Editor: Alex Suban
HO
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi Desa Wisata Liya Togo,Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (30/11/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Walaupun hanya berkunjung selama 30 menit, kedatangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno memberi dampak perubahan di Desa Wisata Liya Togo,Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (30/11/2021).

Dalam kunjungannya selama setengah jam, Sandiaga harus bergegas untuk mengikuti rapat bersama di istana, sementara  warga antusias hadir. 

Masyarakat juga cukup puas dan bangga karena desanya sudah didatangi mas menteri karena sangat jarang desa mereka di kunjungi oleh pejabat negara.

Baca juga: Bangkitkan Ekonomi, Sandiaga Uno Prioritaskan Kota Samarinda Jalani Uji Petik Dalam KaTa Kreatif

Baca juga: Ameer Azzikra Berpulang, Sandiaga Uno Harapkan Semangat untuk Kembangkan Ekonomi Umat Tidak Surut

Dalam kunjungannya itu, para pedagang kaki lima turut menikmati berkah karena makanan kecil dan dagangan lainya mendapat kenaikan omset.

Souvenir yang menjadi tanda mata dari lokasi wisata laku keras seperti di Desa Wisata Liya Togo,Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Sandiaga mengapresiasi hasil kerajinan souvenir itu karena merupakan salah satu hal yang masuk dalam ekonomi kreatif.

Namun, Sandiaga yang akrab dipanggil Mas Menteri ini mendapi kalau masyarakat desa Wisata Liya Togo mengalami kendala bila ingin membuat souvenir.

Pengelola desa melapor ke Mas Menteri kalau mereka belum memiliki mesin jahit dan mesin bordir demi keperluan peningkatan fesyen mereka.

Oleh karena itu, selama ini desa menjahit dan membordir menggunakan jasa desa lain dan mengeluarkan biaya yang cukup mahal, sehingga mendapatkan keuntungan yang sedikit.

“Padahal mereka itu yang mendisain tapi karena tidak ada mesinnya maka mereka bawa ke lokasi lain sehingga keuntungannya sangat sedikit dan juga proses pembuatannya menjadi memakan waktu lebih lama,” tegasnya.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved