Breaking News:

Kebakaran

Padat Penduduk, Kecamatan Tapos dan Sukmajaya Jadi Wilayah Rawan Kebakaran di Kota Depok

Padat Penduduk, Kecamatan Tapos dan Sukmajaya Jadi Wilayah Rawan Kebakaran di Kota Depok. Berikut Selengkapnya

Penulis: Muhamad Fajar Riyandanu | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota/Muhamad Fajar Riyandanu
Kepala Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Depok, Welman Naipospos saat ditemui di Kantor Damkar dan Penyelamatan Kota Depok pada Selasa (30/11/2021) 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Kepala Bidang Pengendalian Operasional Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Depok, Welman Naipospos, menyebutkan ada 101 bencana kebakaran yang tersebar di 11 kecamatan dalam rentang Januari hingga Oktober 2021.

Lebih lanjut, ujar Welman, Kecamatan Tapos menjadi wilayah yang paling banyak terjadi peristiwa kebakaran dengan 17 kasus.

Disusul Kecamatan Sukmajaya dengan 15 kasus dan Kecamatan Sawangan di posisi ketiga dengan 14 kasus.

Sementara dari 101 kasus kebakaran yang terjadi, pada bulan Januari ada 10 kebakaran, Februari 4 kebakaran, Maret 9 kebakaran, April 12 kebakaran, Mei 9 kebakaran, Juni 9 kebakaran. Sedangkan bulan Juli 10 kebakaran, Agustus 15 kebakaran, September 12 kebakaran dan Oktober 11 kebakaran.

Welman menyebut, kebakaran yang terjadi di tiga kecamatan tersebut disebabkan oleh tingkat kepadatan penduduk. Hal itu, ujar Welman, berpotensi tinggi menimbulkan korsleting listrik.

"Sebetulnya yang pertama itu indikatornya kepadatan suatu wilayah. Kecamatan Sukmajaya itu padat. Tapos itu kan pecahan dari Cimanggis, jadi ada beberapa wilayah memang padat," kata Welman saat ditemui di Kantor Damkar dan Penyelamatan Kota Depok pada Selasa (30/11/2021), siang

Baca juga: Buruknya Instalasi Listrik Jadi Sebab Kebakaran di Depok Banyak Terjadi di Rumah-rumah Petak

Baca juga: Kebakaran Hebat Melanda Sebuah Gudang di Kebayoran Lama, 80 Personel Damkar Dikerahkan

Dari hasil catatan Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Depok, objek yang sering terbakar adalah rumah-rumah petak.

"Kebanyakan itu rumah-rumah petak ya. Tapi tidak seluruh rumah terbakar, hanya ruang tertentu," jelas Welman.

Selain tingkat kepadatan penduduk, Welman juga menyinggung perilaku atau kebiasaan masyarakat yang masih sering bakar sampah sembarangan.

Saat melakukan bakar sampah, sebaiknya warga menunggu di lokasi hingga padam atau mengawasi dari kejauhan.

Tak berhenti di situ, walau kobaran api sudah hilang dan hanya menyisakan kepulan asap, warga harus memastikan api benar-benar padam. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menyiram bara api dengan air

"Contohnya kenapa di Sawangan itu banyak kebakaran karena banyak masyarakat pedesaan yang seringkali membakar sampah. Padahal bakar sampah saat ini mengganggu lingkungan. Bakar sampah di tengah terik matahari lalu dipantik dengan bahan yang mudah terbakar," pungkas Welman. (m29)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved