Breaking News:

Polisi Dikeroyok

Perwira Polisi Dikeroyok Massa PP, Ini Penentu Bobot Kekerasan Para Pelaku

Mereka yang melawan atau bahkan menyerang polisi sangat mungkin sebelumnya adalah pihak yang tengah merusak ketertiban

warta kota
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Kabag Ops Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Dermawan Karosekali, menjadi korban pengeroyokan massa Pemuda Pancasila (PP) saat aksi unjuk rasa di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/11/2021), yang berakhir ricuh.

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai sebetulnya 'lumrah' jika polisi diserang.

"Lumrah, dalam pengertian bahwa karena secara normatif mereka bekerja dalam rangka menciptakan ketertiban dan kepastian hukum. Maka pihak-pihak yang tidak tertib dan tidak taat hukum tentu akan melawan ketika mereka menjadi sasaran kerja polisi tersebut," kata Reza kepada Wartakotalive.com, Jumat (26/11/2021).

Dengan kata lain, menurut Reza, ringkasnya, mereka yang melawan atau bahkan menyerang polisi sangat mungkin sebelumnya adalah pihak yang tengah merusak ketertiban atau pun melakukan pelanggaran hukum.

"Semakin eksplosif jika si penyerang berada di bawah pengaruh NAPZA. Dalam situasi semacam itu, dianiaya merupakan salah satu risiko tugas yang bisa terjadi sewaktu-waktu," ujar Reza.

Pada sisi lain, kata Reza, untuk kepentingan pembenahan SDM, perlu dicari tahu apa saja gerangan kondisi sesaat sebelum terjadinya penyerangan terhadap polisi.

"Adakah tindak-tanduk atau pun tutur kata personel yang menyinggung pihak penyerang. Juga seberapa jauh sikap personel pada situasi tertentu, alih-alih menenangkan, justru mengeskalasi kemungkinan benturan," katanya.

Baca juga: Demo Ormas Pemuda Pancasila Rusuh, Polisi Cari Tersangka Lain Pengeroyok AKBP Dermawan Karo Sekali

Baca juga: Haikal Hassan Tak Penuhi Panggilan karena Istri Sakit, Penyidik Jadwalkan Ulang Pemeriksaan

Baca juga: Dibanggakan Jokowi, Bandara Kualanamu Bakal Dikelola India, Roy Suryo Nyinyir: Meroket Hutangnya

"Mungkinkah personel tidak sensitif dalam mengukur tingkat kekritisan yang sedang berlangsung di lapangan. Misalnya, keadaan sesungguhnya sudah semakin genting, tapi personel bersangkutan tetap menerapkan pola penanganan yang biasa-biasa saja," tanya Reza.

Berarti, kata dia, penyerangan terhadap polisi merupakan buah dari cara kerja yang keliru kalkulasi, tidak prosedural atau pun tidak humanis dari individu personel polisi itu sendiri.

"Kekerasan terhadap polisi tidak disikapi cuma dengan bingkai hitam putih, melainkan lebih sebagai produk interaksi. Yaitu interaksi antara personel polisi dan pihak yang sedang dihadapinya," katanya.

Ataukata Reza jangan-jangan penganiayaan dilakukan karena si penyerang secara mendasar sudah punya sentimen negatif terhadap polisi.

Baca juga: Sosialisasi Program JKN-KIS ke Warga Jakarta Barat, BPJS Minta Warga Rutin Bayarkan Iuran JKN-KIS

Baca juga: MK Nyatakan UU Ciptaker Inkonstitusional Bersyarat, Pengamat: Kenapa Tidak Dibatalkan dari Sekarang?

Baca juga: Antisipasi Gelombang 3 Covid-19 Pasca Libur Nataru, RSUD Kebayoran Lama Siapkan 33 Tempat Tidur

"Dengan kata lain, terlepas apa pun situasinya, si penyerang sudah punya mindset pokoknya setiap polisi, siapa pun orangnya, adalah tak ada baiknya, adalah musuhnya, sehingga adalah sah-sah saja dianiaya," katanya.

Penyerangan terhadap polisi, jika dilatari oleh sikap batin seperti itu, menurut Reza, tergolong paling berat.

Polda Metro Jaya merilis penangkapan anggota ormas Pemuda Pancasila yang membuat kerusuhan dengan menganiaya seorang perwira menengah Polri saat demonstrasi Kamis (25/11/2021)
Polda Metro Jaya merilis penangkapan anggota ormas Pemuda Pancasila yang membuat kerusuhan dengan menganiaya seorang perwira menengah Polri saat demonstrasi Kamis (25/11/2021) (Warta Kota/Desy Selviany)

"Bahkan di beberapa negara, penyerangan dengan latar sedemikian rupa digolongkan sebagai hate crime dan itu sangat serius. Sekelas dengan hate crime terhadap, misalnya, orang berwajah Timur Tengah, berpenampilan relijius, dan semacamnya," ujar Reza.

"Dari situ bisa dipahami bahwa andai si penyerang polisi kelak dihukum, penilaian tentang bobot kekerasan terhadap polisi tidak sebatas ditentukan oleh keparahan cedera yang personel polisi alami. Lebih esensial, penilaian ditentukan oleh keadaan yang menyebabkan peristiwa penyerangan itu: situasional ataukah cara pandang radikal terhadap profesi dan jatidiri polisi," papar Reza.(bum)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved