Kasus KDRT

Komnas Perempuan Bongkar Rahasia Chan yang Sering Mabuk, Ngutang, Bohong dan Punya Istri di Taiwan

Komnas perempuan ungkap data dan tabiat Chan, pria sering mabuk yang gugat istri. Dia sudah punya istri dan 3 anak di Taiwan, kerap mabuk

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Wartakota
Warta Kota/M Azzam
Chan Yung Ching (kemeja biru) bersama Penasihat Hukumnya, Hotma Raja Bernard Nainggolan usai persidangan perkara KDRT psikis dengan terdakwa Valencya di Pengadilan Negeri Karawang, pada Selasa (16/11/2021). Chan dan Valencya, suami istri yang sudah bercerai sejak Januari 2020. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengungkap dan membongkar data-data menyangkut Chan Yung Ching. Pria yang semula berkewarganegaraan Taiwan itu, disebut sering mabuk-mabukan, kerap utang, dan ternyata sudah pernah menikah dengan 3 orang anak.

Komnas Perempuan menyesalkan proses hukum yang menempatkan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) Valencya (inisial V), 45 tahun, yang diadukan Chan Yung Ching (CYC), suaminya.

Kasus ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Karawang. Valencya didakwa dengan ancaman penjara 1 tahun atas dugaan melakukan kekerasan psikis. Ia dianggap kerap memarahi suami yang sering pulang malam, dan mabuk-mabukan. Valencya dan Chan sudah bercerai sejak Januari 2020.

"Kondisi ini merupakan cermin ketidakmampuan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian dan kejaksaan, dalam memahami relasi kuasa dalam kasus-kasus KDRT," demikian pernyataan Komas Perempuan yang diterima Wartakotalive.com, Kamis (18/11/2021).

Siaran pers ini dibuat lima komisioner Komnas Perempuan yaitu Siti Aminah Tardi, Dewi Kanti, Andy Yentriyani, Maria Ulfah Anshor, dan Mariana Amirrudin.

"Komnas Perempuan berharap kondisi ini dapat dikoreksi dengan mendorong majelis hakim di Pengadilan Negeri Karawang untuk mengimplementasikan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No. 3 tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum dalam pemeriksaan kasus tersebut," tulis Komnas Perempuan.

Komnas Perempuan telah menerima pengaduan dari Valencya pada Juli 2021, dan dari pengaduan tersebut didapatkan informasi Valencya adalah korban kekerasan rumah tanggal (KDRT) berulang dan berlapis.

Baca juga: Istri Dituntut 1 Tahun Penjara Karena Usir Suami Mabuk, Pakar: Mabuk Bukan Pidana, Pengusiran Pidana

Baca juga: Bukan Karena Mabuk-mabukan, Mantan Suami Valencya Ungkap Kemarahan Karena Masalah Keuangan

Ikuti Wawancara Valencya, terdakwa kasus KDRT psikis 

 

Setelah menikah pada tahun 2011 dan mengikuti Chan, suaminya ke Taiwan. "Korban baru mengetahui bahwa CYC, telah berbohong tentang status perkawinannya. V juga menjadi pihak pencari nafkah utama sementara CYC kerap pulang dalam kondisi mabuk," tulis Komnas Perempuan.

Valencya juga menghadapi kekerasan ekonomi akibat utang CYC, termasuk untuk mengembalikan pinjaman atas mahar perkawinannya. Hal ini menyebabkan Valencya memilih kembali ke Indonesia, mengembangkan usahanya dan bahkan menjadi sponsor bagi CYC untuk mendapatkan kewarganegaraan di Indonesia.

Namun, tabiat CYC yang kerap mabuk dan berutang terus berlanjut. Atas peristiwa KDRT berlapis dan berulang serta dalam kurun waktu yang lama, Valencya kemudian menggugat cerai.

Baca juga: Istri Marahi Suami karena Mabuk Dituntut Satu Tahun Penjara, Aktivis Perempuan: Ini Tamparan

Cerita lengkap istri marahi suami yang kerap mabuk-mabukan dan pulang malam 

Gugatan ini telah diputus oleh Pengadilan Negeri Karawang pada Januari 2020 dengan memberikan hak asuh anak kepada ibu dan pihak CYC harus memberikan nafkah dan biaya pendidikan per bulannya bagi kedua anaknya.

Menyikapi hasil putusan tentang perceraiannya, pada Juli 2020, CYC telah mengajukan banding dan meminta pembagian harta gono-gini dibagi rata. Pengadilan Tinggi Bandung telah memeriksa dan menguatkan keputusan pengadilan tingkat pertama.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved