Kasus KDRT

Istri Dituntut 1 Tahun Penjara Karena Usir Suami Mabuk, Pakar: Mabuk Bukan Pidana, Pengusiran Pidana

"Pada sisi lain, mengusir anggota keluarga bisa menjadi perbuatan pidana. Begitu pula menyumpah-serapahi orang, termasuk pemabuk sekali pun," katanya.

Tribunbekasi.com
Sidang kasus KDRT psikis terdakwa Valencya (45) di Pengadilan Negeri Karawang, pada Kamis (11/11/2021) sore. Terdakwa dituntut satu tahun penjara oleh jaksa, dalam sidang terdakwa sempat menangis tidak terima tuntutan itu. Dia menilai memarahi suaminya karena kesal suaminya sering pulang dalam keadaan mabuk. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Valencya (45), terdakwa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) psikis terhadap suaminya, Chan Yung Ching, dituntut satu tahun penjara oleh jaksa.

Valencya dilaporkan suaminya karena dinilai melakukan kekerasan psikis. Namun, Valencya menyebut bahwa dia memarahi Chan karena suaminya itu mabuk-mabukan.

Valencya tak menyangka omelannya itu dijadikan alat bukti saat dia dilaporkan ke polisi. 

Sementara Chan melalui kuasa hukumya membantah ia dimarahi karena mabuk. Tetapi dimarahi karena masalah keuangan. 

Baca juga: Istri Dituntut 1 Tahun Penjara Karena Usir Suami Mabuk, Pakar: Mabuk Bukan Pidana, Pengusiran Pidana

Menanggapi hal ini, Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel mengatakan mabuk lalu mengemudi, itu pidana, lalu mabuk di tempat umum, itu pidana.

"Mabuk lalu memukul orang, itu pidana. Mabuk sampai tidak menafkahi keluarga, itu pun pidana. Tapi bukan mabuknya, melainkan lokasi dan perbuatan yang dilakukan saat mabuk, yang bisa membuat si pemabuk bermasalah pidana," kata Reza kepada Warta Kota, Rabu (17/11/2021).

Baca juga: Mahkamah Agung Rencanakan Wawancara CPNS 2021 APP Calon Hakim Dilakukan Secara Daring dan Tatap Muka

Baca juga: Rumah Chef Aiko Disatroni Pencuri, Sepeda Motor Rp 80 Juta Raib

Baca juga: Persija Kontra Persib, Andritany: Ini Tentang Harga Diri Bukan Sekedar Menang-Kalah

Lantas, mabuknya sendiri bagaimana?

"Kalau mabuk diterjemahkan sebagai mengonsumsi miras atau alkohol, maka--sayangnya--itu tidak serta-merta dianggap sebagai masalah. Toh ada kalangan yang minum miras untuk tujuan rekreasional, tujuan sosial, atau juga terkait dengan budaya," kata Reza.

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel bicara soal eksibisionisme
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel bicara soal eksibisionisme (warta kota)

"Barulah ketika seseorang sudah tergolong pemabuk, apalagi yang parah, maka dia baru dianggap bermasalah. Itu bukan masalah pidana. Melainkan masalah kesehatan. Konsekuensinya, pemabuk jangan diusir, jangan dihukum, tapi justru seharusnya diobati," papar Reza.

Menurut Reza apa yang disampaikannya itu adalah pandangan atau cara penyikapan di sekian banyak negara luar. "Saya sih tidak setuju. Mengonsumsi miras, berapa pun takarannya, tetap masalah. Masalah kesehatan dan masalah pidana sekaligus. Itu sikap saya," tambah Reza.

Baca juga: Saksikan Puluhan Koleksi Wayang dari Bentara Budaya Jakarta Mulai 19 November

Baca juga: Pengendara Motor Nekat Terobos Jalan Tol dari Cikupa Menuju Rengadengklok dan Dihentikan di Semanggi

Baca juga: Rabu (17/11/2021) Pagi Harga Emas Antam Turun dari Rp 952.000 per Gram Menjadi Rp 948.000 per Gram

"Pada sisi lain, mengusir anggota keluarga bisa menjadi perbuatan pidana. Begitu pula menyumpah-serapahi orang, termasuk pemabuk sekali pun," katanya.

"Jadi, ketika--misalnya--suami mendapati istrinya pemabuk, kemudian suami memaki-maki atau bahkan mengusir si istri, maka justru si suami yang bisa diproses pidana. Namun, dengan segala kebijaksanaannya, hakim bisa saja menyatakan ada alasan pembenar maupun pemaaf bagi si pelaku pidana tersebut," tegas Reza.(bum)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved