Berita Jakarta

Pemprov DKI Bakal Sanksi Perusahaan Farmasi yang Terbukti Cemarkan Teluk Jakarta dengan Paracetamol

Pemprov DKI Bakal Sanksi Perusahaan Farmasi yang Terbukti Cemarkan Teluk Jakarta dengan Paracetamol. Berikut Selengkapnya

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Dwi Rizki
Tribunnews.com
Dinas Lingkungan Hidup DKI mengambi, sampel air laut di Teluk Jakarta karena mengandung paracetamol. 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Dua perusahaan farmasi di Jakarta Utara dijatuhkan sanksi administrasi karena mencemarkan Teluk Jakarta dengan limbah yang masih mengandung paracetamol.

Kedua perusahaan berinisial PT MEF dan PT B itu terbukti tidak taat mengelola air limbah setelah petugas melakukan investigasi selama beberapa pekan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, mereka dijatuhkan sanksi karena mengacu pada investigasi dan verifikasi yang dilakukan petugas beberapa waktu lalu.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil uji laboratorium air limbah industri farmasi yang dikelola kedua perusahaan tersebut.

Kata dia, penerapan sanksi administratif merupakan langkah yang ditempuh dalam serangkaian kegiatan pengawasan pengelolaan lingkungan.

Pihaknya juga dapat melakukan upaya penegakan hukum terhadap kegiatan usaha yang tidak taat dalam pengelolaan lingkungan yang di dalamnya termasuk pengelolaan air limbah.

“Karena ketidaktaatan dalam pengelolaan air limbah, mereka kami kenakn sanksi administratif yang mewajibkan PT MEF dan PT B untuk menutup saluran outlet IPAL air limbah dan melakukan perbaikan kinerja IPAL, serta mengurus persetujuan teknis pembuangan air limbah dalam rangka pengendalian pencemaran air,” kata Asep berdasarkan keterangannya pada Kamis (11/11/2021).

Baca juga: Polrestro Jakarta Utara Tunggu Laporan Terkait Pencemaran Limbah Paracetamol di Teluk Jakarta

Baca juga: Dinas Lingkungan Hidup DKI Menemukan Perusahaan yang Mencemari Laut Jakarta dengan Paracetamol

Asep menjelaskan, pihaknya akan melakukan monitoring pengawasan penataan sanksi terhadap dua perusahaan itu.

Nantinya, jika diketahui saluran outlet IPAL air limbah PT MEF dan PT B belum dilakukan penutupan, akan dilakukan penutupan saluran outlet IPAL oelh petugas.

“Penegakan hukum terhadap kegiatan usaha yang tidak taat dalam pengelolaan lingkungan berpedoman pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” ucapnya.

Seperti diketahui, dilansir para peneliti LIPI bahwa secara teori sumber sisa paracetamol yang ada di perairan Teluk Jakarta dapat berasal dari tiga sumber.

Di antaranya ekresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan, rumah sakit dan industri farmasi.

Jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan diperairan.

Sedangkan sumber potensi dari rumah sakit dan industri farmasi dapat diakibatkan sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal, sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai. (faf)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved