Rabu, 6 Mei 2026

Tak Diberi Modal Usaha Kafe Dari Sang Ayah, Pemuda Ini Nekat Akhiri Hidupnya

Korban ditemukan dalam posisi terlentang di atas tempat tidurnya dengan kondisi kepala tertutup plastik.

Tayang:
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Budi Sam Law Malau
Warta Kota
Polisi memeriksa lokasi ditemukannya jenazah EBP di Apartement Green Palm Residence RT 07 RW 13 lantai 7 Blok D6 Kelurahan Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, pada Rabu (3/11/2021) malam. 

WARTAKOTALIVE.COM, CENGKARENG -- Seorang pria, EBP (23) ditemukan tewas di Apartemen Green Palm Residence RT 07/RW 13 lantai 7, Blok D6, Kelurahan Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (3/11/2021) malam.

Korban ditemukan dalam posisi terlentang di atas tempat tidurnya dengan kondisi kepala tertutup plastik.

Di dalam plastik itu korban memasukkan selang tabung gas untuk balon.

Kanit Reskrim Polsek Cengkareng, Iptu Tri Baskoro Bintang Wijaya menjelaskan, pemuda itu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tersebut. Untuk sementara motif korban bunuh diri karena sering bertengkar dengan ayahnya.

Menurut Tri, meskipun kedua orang tua korban tinggal di Kawasan Kembangan, Jakarta Barat, tapi karena tidak akur maka korban tinggal sendiri di apartemen.

"Jadi memang korban tidak akur dengan bapaknya, sering cekcok makanya tinggal sendiri di apartemen," ucap Tri saat dihubungi Wartakotalive.com, Kamis (4/11/2021).

Sebelum bunuh diri, katanya, korban mengirimkan wasiat kepada ibunya yakni 'Mah, jika dapat pesan ini berarti saya sudah tidak ada'.

Ibunya kemudian mendatangi kamar apartemen korban dan ketika itu pintu kamar dikunci dari dalam.

Setelah dibuka menggunakan kunci serep, sang ibu terkejut karena korban sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya.

Ibunya meminta bantuan kepada petugas apartemen agar membawa anaknya ke rumah sakit dengan harapan masih dapat ditolong.

"Ternyata nyawanya tidak bisa ditolong lagi," tutur Tri Bintang.

Dari keterangan ibunya, lanjut Bintang, bahwa sang anak sudah kuliah di Perguruan Tinggi Bandung selama tujuh tahun tapi tidak lulus-lulus.

Akhirnya sang anak meminta modal usaha caffe kopi, tapi oleh ayahnya tidak diberikan.

Hal ini yang memicu korban depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya di kamar apartemen.

"Pihak keluarga menolak untuk di lakukan otopsi mayat dan pada tubuh korban tidak di temukan tanda-tanda kekerasan," ujarnya.(m26)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved