Breaking News:

Berita Jakarta

Antisipasi Kecelakaan Maut Susulan, Sopir Transjakarta Diminta Jalani Anamnesa Sebelum Bekerja

Antisipasi Kecelakaan Maut Susulan, Sopir Transjakarta Diminta Jalani Anamnesa Sebelum Bekerja. Berikut Selengkapnya

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota/ Muhamad Fajar Riyandanu
Proses evakuasi jenazah sopir bus Transjakarta yang mengalami kecelakaan beruntun di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin pagi 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Cegah kembali terjadinya kecelakaan maut yang melibatkan bus Transjakarta, pihak Transjakarta diminta untuk memeriksa sopir bus Transjakarta sebelum bekerja.

Tak hanya pemeriksaan suhu tubuh, tetapi juga dopir harus menjalani tes anamnesa.

Hal tersbeut disampaikan Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS Abdul Aziz untuk mengantisipasi kecelakaan maut susulan seperti yang terjadi di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur pada Senin (25/10/2021).

“Rekomendasi kami besok-besok sebelum sopir melakukan opersionalnya harus ada klinik yg mengecek minimal dicek ngantuk atau nggak. Jadi harus ada dokter yang mengontrol, sehingga ada kesiapan sebelum mengoperasionalkan bus,” kata Aziz pada Rabu (27/10/2021).

Hal itu dikatakan Aziz usai meminta klarifikasi manajemen PT Transjakarta di Wisma Grand Cempaka, Cisarua, Kabupaten Bogor pada Rabu (27/102021) pagi.

Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah direksi seperti Direktur Operasional PT Transjakarta Prasetia Budi dan sebagainya.

“Intinya kami ingin sebelum beroperasi, sopir dikontrol dulu bukan sekadar mengisi formulir saya sehat. Sekalian dicek ngantuk atau tidak, terus tekanan darah normal atau tidak,” jelasnya.

Menurut dia, pemeriksaan anamnesa dapat mendeteksi sopir dalam kondisi fit atau tidak.

Baca juga: Masuk Sejak Pukul 3 Pagi dengan Jalur Monoton, Ariza Minta Transjakarta Evaluasi Jam Kerja Sopir

Baca juga: Usai Kecelakaan Maut Transjakarta, Wagub DKI Meminta PT Transjakarta Evaluasi Jam Operasional Sopir

Harapannya kasus kecelakaan maut serupa dapat diminimalisir, bahkan dihindari.

“Jalani tensi darah sama mengecek secara umum oleh dokter palingan 15 menit waktunya,” imbuhnya.

Hingga kini, kata dia, Komisi B masih menunggu penyelidikan dari polisi terkait kasus tersebut.

Posisinya sebagai anggota dewan, hanya menyarankan dan merekomendasikan kepada PT Transjakarta agar melakukan upaya mitigasi agar kasus tersebut tidak terulang kembali.

“Ini masih penyelidikan ya, yang penting ini tidak terjadi lagi. Kalau yang sudah terjadi kan mejadi tugas kepolisian untuk menyelidiki, kami sebagai dewan yah bagaimana supaya tidak terjadi lagi dan kami usul ada klinik di setiap depo,” ungkapnya.

Seperti diketahui, dua armada Transjakarta milik operator Bianglala Metropolitan dengan nomor body BMP 211 dan BMP 240 mengalami kecelakaan saat melintas di sekitar wilayah MT Haryono, Jakarta Timur pada Senin (25/10/2021).

Akibatnya, dua orang meninggal dunia sementara puluhan lainnya luka-luka. (faf)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved