Breaking News:

Pusat Studi Arsip Kebencanaan: Jadi Sarana Edukasi Masyarakat dan Destinasi Pariwisata

Sebagai salah satu negara di dunia yang rawan bencana, Indonesia harus siap menghadapi risiko bencana.

istimewa
Kepala Perpusnas RI Syarif Bando (kanan) berfoto bersama selepas seminar nasional dengan tema "Menuju Pusat Studi Arsip Kebencanaan Dunia" yang diselenggarakan secara hybrid, Jumat (22/10/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -  Sebagai salah satu negara di dunia yang rawan bencana, Indonesia harus siap menghadapi risiko bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun budaya literasi tentang kebencanaan.

Terkait hal itu, Arsip Nasional RI (ANRI) baru saja meresmikan Pusat Studi Arsip Kebencanaan di Aceh. 

Pusat studi ini dibangun untuk memberikan sarana edukasi bagi masyarakat terkait literasi kebencanaan.

Pembangunan tersebut, mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan, kehadiran Pusat Studi Arsip Kebencanaan mendorong berbagai pihak untuk menyiapkan referensi pengetahuan terkait bencana.

Baca juga: MITOS Negara Rawan Bencana Tak Bisa Maju, Ini Penjelasan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

Baca juga: Indonesia Rawan Bencana, Ketua PMI Jakarta Timur Sarankan PMR Wajib Dilakukan di Seluruh Sekolah

Selain itu, sebagai jalan menjelaskan kepada masyarakat tentang potensi bencana yang bisa menjadi pembelajaran bagi dunia.

"Di Perpustakaan Nasional banyak sekali naskah yang menjelaskan tentang kebencanaan ini. Yang paling penting bagaimana masyarakat dapat mendapatkan pelajaran serta edukasi tentang gejala bencana alam, khususnya," kata Syarif Bando dalam seminar nasional dengan tema "Menuju Pusat Studi Arsip Kebencanaan Dunia" yang diselenggarakan secara hybrid, Jumat (22/10/2021).

Bahan pustaka terkait kebencanaan yang dimiliki Perpusnas terdiri dari beragam koleksi, seperti manuskrip, buku langka, buku elektronik, artikel, dan surat kabar. 

Dia menyebutkan, beberapa di antaranya adalah naskah Bugis (Kutika), naskah Melayu, naskah Jawa (Palilindon, Pararaton, Babad Momana dan Sengkala) yang berisi cerita bencana di masa lalu.

Baca juga: Camat Cisarua Bogor Sudah Petakan Titik Rawan Bencana, Usulkan Relokasi Rumah Warga ke Tempat Aman 

Baca juga: 295 Patahan di Indonesia Berpotensi Picu Gempa Bumi, 50 Desa Rawan Bencana, Kalimantan Relatif Aman

Lebih lanjut, Syarif Bando menuturkan hal yang paling utama dalam menyadarkan masyarakat tentang kesadaran bencana adalah dengan menulis atau membukukan setiap kejadian terkait bencana.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved