Virus Corona

Penumpang Pesawat Wajib Tes PCR, YLKI: Munculkan Praduga Jadi Lahan Bisnis

Agus juga menilai, untuk melakukan screening awal penumpang pesawat, cukup dengan antigen, dan tidak perlu tes PCR.

Editor: Yaspen Martinus
Kompas.com
Pengurus Harian YLKI Agus Suyatno mengatakan, kewajiban tes PCR menjadi pukulan bagi konsumen yang menggunakan transportasi udara. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai, aturan perjalanan dengan transportasi udara wajib tes PCR, memberatkan konsumen dalam hal pembiayaan.

Pengurus Harian YLKI Agus Suyatno mengatakan, kewajiban tes PCR menjadi pukulan bagi konsumen yang menggunakan transportasi udara.

Menurut Agus, kebijakan ini menimbulkan pertanyaan besar bagi YLKI.

Baca juga: Wajib Tes PCR Mulai 24 Oktober, Maskapai Wajib Sediakan 3 Baris Kursi untuk Karantina Penumpang

Sebab, ketika average vaksinasi sudah meningkat, kenapa kebijakan ini muncul?

"Penggunaan PCR ini menjadi tanda tanya besar, dan memunculkan praduga apabila PCR ini menjadi lahan bisnis untuk keperluan penerbangan," kata Agus saat dihubungi Tribunnews, Sabtu (23/10/2021).

Agus juga menilai, untuk melakukan screening awal penumpang pesawat, cukup dengan antigen, dan tidak perlu tes PCR.

Baca juga: Alasan Pemerintah Wajibkan Tes PCR untuk Penumpang Pesawat: Lebih Sensitif Jaring Kasus Positif

"Fungsi PCR sendiri lebih tepat untuk melakukan diagnosis terhadap oran, sedangkan penggunaan antigen sudah cukup untuk melakukan screening awal penumpang pesawat," tutur Agus.

Pengamat penerbangan Arista Atmadjati juga menilai, penggunaan metode tes Covid-19 dengan PCR untuk penumpang pesawat, dapat membuat minat masyarakat menurun untuk melakukan perjalanan.

Menurutnya, dengan adanya kebijakan terbaru mengenai kewajiban tes PCR, juga dapat memberatkan calon penumpang pesawat dalam segi biaya.

Baca juga: Aturan Baru Wajib Tes PCR 2 x 24 Jam, Komisioner Komnas HAM: Ruwet dan Memberatkan

"Bisa kita bayangkan, apabila satu keluarga bepergian dengan dua anak, maka biaya tes PCR sudah mendekati Rp 2 juta."

"Dan belum ditambah harga tiket pesawat itu sendiri," ucap Arista saat dihubungi, Jumat (22/10/2021).

Ia juga menilai, waktu perubahan aturan perjalanan ini tidak tepat, karena arus penumpang pesawat yang sedang mengalami kenaikan.

Baca juga: Kecewa Aturan Baru Pemerintah, Projo: Sudah Divaksin Kok Masih Harus Tes PCR?

"Dengan adanya kebijakan ini, berpotensi kembali menurunkan pergerakan penumpang pesawat yang saat ini sedang bergerak naik," ucap Arista.

Arista juga mengungkapkan, sebaiknya penumpang pesawat hanya perlu menggunakan hasil tes antigen. Mengingat dalam histori 2 tahun terakhir ini, penyebaran Covid-19 di pesawat sangatlah kecil.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved