Breaking News:

Berita Jakarta

Ataturk Resisten Jadi Nama Jalan di Jakarta, Ini Usulan Bamus Betawi sebagai Alternatif Pengganti

Bamus Betawi mengusulkan Turki Usmani sebagai nama alternatif untuk menggantikan rencana Ataturk sebagai salah satu nama jalan di DKI Jakarta.

Reuters
Turki Usmani diusulkan oleh Bamus Betawi sebagai nama alternatif untuk menggantikan rencana Ataturk sebagai salah satu nama jalan di DKI Jakarta. Foto ilustrasi: Bandar Udara Ataturk, Kota Istanbul, Turki. (Reuters) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria membeberkan, pemerintah Indonesia berencana mengubah salah satu nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Nama jalan tersebut akan berganti menjadi nama tokoh Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

Orang nomor dua di Ibu Kota itu mengatakan, pemerintah Turki juga siap menyediakan satu jalan untuk diisi nama tokoh Indonesia.

“Jadi memang ada keinginan dari kami, dari pemerintah Turki agar ada nama dari kita yang ada di Turki dan juga nama tokoh dari Turki. Jadi sama-sama,” kata Ariza usai menghadiri Kegiatan Baksos Dalam Rangka Hari Ulang Tahun PIRA ke-13 di Musholah AL Ahyar, Kel Klender, Kec Duren Sawit, Minggu (17/10/21).

Sontak, rencana itu mendapat tentangan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD DKI Jakarta.

OKS menolak penggunaan nama tokoh Turki Mustafa Kemal Ataturk menjadi nama sebuah jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat karena nama Ataturk dinilai resisten bagi masyarakat, terutama umah muslim.

“Kami sangat tidak setuju, karena kebijakan Ataturk tidak mendukung dan bahkan melarang kegiatan Islam di Turki, sehingga mencoreng hati nurani umat Islam dan negeri lainnya,” ujar Penasehat Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Nasrullah berdasarkan keterangannya pada Selasa (19/10/2021).

Baca juga: Rencana Ataturk Jadi Nama Jalan di Menteng Jakarta Pusat Diprotes, Pemprov DKI Cari Solusi

Sementara itu anggota Fraksi PDI Perjuangan Gilbert Simanjuntak menilai, penggunaan nama tokoh Turki, Mustafa Kemal Ataturk di Provinsi DKI Jakarta, Republik Indonesia merupakan bentuk diplomasi antarnegara.

Gilbert menilai, penggantian nama jalan dengan tokoh negara lain merupakan hal yang lumrah terjadi.

“Itu prosedur normal seperti kita mengajukan agar jalanan di Ankara Turki itu berubah menjadi Soekarno Street,” ujar Gilbert pada Selasa (19/10/2021).

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved