Breaking News:

Kepemimpinan Jokowi

Fungsionaris Partai Golkar Soroti Kepemimpinan Jokowi di Bidang Demokrasi yang Fluktuatif

Wakil Ketua Umum Partao Golkar Ahmad Doli Kurnia menyoroti kinerja Presiden Joko Widodo yang lumayan bagus, tapi indeks demokrasi fluktuatif.

Editor: Valentino Verry
Kompas TV
Partai Golkar melakukan pemantauan atas kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang dianggap cukup bagus, untuk sektor demokrasi yang cenderung tak stabil. 

Maka itu, Doli mengatakan bahwa fluktuasi yang terjadi soal indeks demokrasi itu memiliki variabel yang banyak.

Baca juga: Deklarasikan Anies Jadi Capres 2024, Aliansi Nasional Perkuat Jaringan ke Seluruh Indonesia

"Pada satu sisi kita terkendala tentang prosedur teknis pelaksanaan Pemilu misalnya itu mungkin bisa naik, tapi over all saya kira sejauh ini sejak reformasi sampai sekarang kita masih bisa konsisten menjaga indeks demokrasi kita menjadi lebih baik, walau terjadi fluktuasi itu biasa saja," pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Golkar, Maman Abdurrahman, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempertimbangkan pembubaran Kementerian BUMN.

Menurut Maman, sebaiknya Kementerian BUMN hanya dijadikan badan atau super holding yang posisinya di bawah kementerian teknis. 

Nantinya, kata Maman, badan atau super holding itu hanya memiliki tugas dan fungsi koordinasi, konsolidasi, dan sinergitas antara perusahaan BUMN. 

Namun, untuk fungsi kontrol, penentuan sumber daya manusia, supervisi, pelaporan, dan lainnya mesti dikembalikan kepada kementerian teknis masing-masing. 

Baca juga: Pilpres 2024, Relawan Balad Jokowi: Tiga Nama Ini Bisa Lanjutkan Kepemimpinan Jokowi

Hal ini dilakukan agar program kementerian teknis dan perusahaan BUMN bisa selaras dan memiliki sistem kontrol satu pintu. 

Sementara itu, Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PKB di Komisi VI DPR RI, Nasim Khan menilai usulan tersebut sulit diwujudkan. 

"Sulit menjawab pertanyaan itu, karena dalam kenyataannya banyak perusahaan BUMN yang saat ini masih mencatat kerugian,” ujarnya.

“Baik kerugian disebabkan karena tata kelola yang menimbulkan beban utang menggunung, ataupun disebabkan kesalahan strategi bisnis yang menyebabkan perusahaan gagal mendapatkan peluang besarnya untuk menghasilkan laba," lanjut Nasim Khan. 

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved