Breaking News:

Kolom Trias Kuncahyono

Trias Kredensial Bersama Manuel Kaisiepo: Harus Ada Perubahan

Kekuatan sipil melemah. Lembaga swadaya masyarakat melemah, kampus melempem, pers juga tak lagi mampu bersuara kritis.

Youtube/Trias Kredensial
Wawancara secara virtual Trias Kuncahyono dengan mantan Menteri Percepatan Pembangunan Indonesia Timur Manuel Kaisiepo dalam program Cemara19 Channel yang membahas tentang nasionalisme. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Setelah kekuatan reformasi berhasil menumbangkan rezim Soeharto yg otoriter, Indonesia memasuki era demokrasi yg berbeda dari sebelumnya.

Namun, pilihan jalan demokrasi yang ditempuh ternyata berbiaya mahal. Sistem elektoral membutuhkan biaya yang besar sekali.

Akibatnya yang terjadi, politisi, partai politik, hanya menjadi kepanjangan tangan kepentingan di luar dirinya. Siapa mereka? Oligarki.

Akibat lebih lanjut, kekuatan sipil juga melemah. Lembaga swadaya masyarakat melemah, kampus melempem, pers juga tak lagi mampu bersuara kritis.

Sebelum semuanya menjadi terlambat, harus mulai dilakukan perubahan. Harus dibangkitkan kesadaran bersama bahwa situasi ini tidak sejalan dengan arah yg dicitakan para pendiri bangsa Indonesia.

Belakangan ini muncul istilah nasionalisme puritan seperti yang terjadi di Amerika Serikat atau di Inggris. Kemenangan Donald Trump menyemai apa yang disebut nasionalisme puritan.

Baca juga: Trias Kredensial Bersama Dr Baskara T Wardaya SJ: Jas Merah

Banyak pengertian nasionalisme, lalu bagaimana kaum muda milenial mengartikan, menghayati dan mengekspresikan nasionalisme?

Untuk mengetahui lebih jauh apa itu nasionalisme, kita akan berbincang dengan Manuel Kaisiepo, wartawan Kompas tahun 1984-2000, pernah menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, 2000-2004.

Kalau mendengar kata nasionalisme, apa yang Pak Manuel bayangkan? Apa yang bisa anda katakan?

Sekarang ini kalau bicara nasionalisme ada saja orang yang sinis. Apakah nasionalisme masih relevan, tidak. Terutama di era globalisasi yang sudah tidak mengenal lagi batas-batas. Terutama kalau nasionalisme itu dipahami dalam konteks yang lama. 

Baca juga: Wawancara Trias dengan J Kristiadi: Solusi Optimistis Penyelesaian Masalah Papua

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved