Minggu, 17 Mei 2026

PON XX Papua

Cerita Laode Abdul Haris Sofyan Peraih Medali Emas Wushu Nomor Sanda Kelas 65 Kg

Haris (biasa disapa) nekat merantau dari tempat tinggalnya di Desa Pemana, Alok, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Kota Surabaya, Jawa Timur

Tayang:
PB PON XX PAPUA/Yulius Rianto Gozali )
Abdul Haris Sofyan dari DKI Jakarta (Kiri) menang atas Samuel Marbun dari Sumatra Utara di Kelas 65 Kg cabor Wushu Sanda Putra, dan berhak medali Emas yang berlangsung di GOR Hiad Sai Trikora Merauke, PON XX Papua, Minggu (3/10/2021) 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sosok Laode Abdul Haris Sofyan, sejak tahun 2007 dalam usia 14 tahun yang terbilang remaja sudah berani merantau ke Kota Surabaya, Jawa Timur.

Haris (biasa disapa) nekat merantau dari tempat tinggalnya di Desa Pemana, Alok, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Kota Surabaya, Jawa Timur, karena merasa dirinya tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Saat merantau ke Kota Surabaya, Haris mengaku hanya membawa bekal apa adanya dan tidak memiliki sanak saudara ataupun teman.

Setelah merasa cukup tinggal di Kota Surabaya, Haris memutuskan akan merantau lagi ke Kota Jakarta. Beruntung dia bertemu dengan sosok bernama Jerry di sebuah Stasiun Kereta Api.

Jerry merupakan petugas keamanan yang bekerja di salah satu ruko di kawasan Harmoni, jakarta Pusat. 

Saat itu Jerry satu-satunya orang yang mau menerima kehadirannya di Jakarta. Dirinya bertemu Jerry di stasiun yang ada di Surabaya, Jawa Timur dengan tujuan ke Jakarta.

Laode Abdul Haris Sofyan saat berbincang bersama Warta Kota di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta usai kembali dari PON XX Papua
Laode Abdul Haris Sofyan saat berbincang bersama Warta Kota di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta usai kembali dari PON XX Papua (Warta Kota/Yolanda Putri Dewanti)

Di Jakarta tinggal di depan pintu ruko milik orang lain yang tidak terlalu besar, tiap malam hanya bermodalkan kardus buat alas tidurnya. Kemudian setiap pagi dia membantu ibunya Jerry berjualan nasi uduk.

"Ibunya pak Jerry adalah ibu angkat saya pertama saat mengadu nasib di Ibu Kota, saya bantu cuci piring karena dia jualan nasi uduk setiap pagi di ruko itu," ucap Haris kepada Warta Kota, di Kantor KONI, Jakarta Pusat, Rabu (13/10/2021).

Pada saat itu, di benak Jerry terbesit bahwa Haris harus bisa jadi orang sukses, ia merasa khawatir dengan masa depan Haris. Akhirnya ia ditawarkan untuk berlatih tinju.

 Jerry langsung mengenalkan Haris kepada temannya yang bernama Ibrahim Marobi untuk ikut berlatih olahraga tinju.

"Sebenarnya pada awalnya itu saya menolak untuk latihan tinju, sebab terkesan seram dan jadi takut," ucapnya.

Tapi karena ada pertimbangan lain, akhirnya Harris memutuskan ikut Ibrahim Marobi untuk berlatih tinju. Harris langsung masuk sebuah sasana tinju dan ia tinggal di mes.

Berjalannya waktu sang pelatih melihat bakat Harris bukan di cabor tinju, ia kemudian diajak untuk melihat pertandingan Wushu dan tertarik pada nomor sanda yang hampir sama dengan tinju.

Ketertarikan pada Wushu

Awal melihat pertandingan itu, pria berumur 28 tahun ini mulai merasa tertarik dan bercita-cita ingin menjadi atlet Wushu.

Tepat tahun 2011, dirinya mengikuti latihan Wushu dengan tekun, sampai akhirnya berkesempatan berlaga di PON XVIII Riau 2012 mewakili kontingen DKI Jakarta.

Namun, lantaran belum memiliki pengalaman yang banyak di pertandingan Wushu tingkat nasional, Haris gagal membawa medali pada saat itu.

Kendati demikian, hal tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanannya malah menjadi sebuah cambukan terhadap dirinya agar dapat meningkatkan performanya.

"Saat itu saya belum terlalu menguasai teknik bertahan, menendang, dan membanting lawan," ucapnya.

Lanjutnya, kata Haris, dirinya juga pernah mengalami cidera dipinggang dan punggungnya selama mengikuti olahraga Wushu.

"Saya pernah mewakili Indonesia di Asian Games 2018, namun tidak berhasil karena ada cedera dipinggang. Lalu, di SEA Games Filipina 2019, saya dapat perunggu. Hingga akhirnya 2021 ini ia berhasil mendapat medali emas di PON XX Papua," ucapnya.

Laode Abdul Haris Sofyan (kedua kiri) berada diatas podium setelah meraih medali emas cabor Wushu nomor Sanda kelas 65 kg PON XX Papua
Laode Abdul Haris Sofyan (kedua kiri) berada diatas podium setelah meraih medali emas cabor Wushu nomor Sanda kelas 65 kg PON XX Papua (Istimewa)

Bertemu Keluarga

Setelah banyak meraih prestasi, Haris akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di NTT pada tahun 2015.

Saat itu, dirinya di hubungi asisten pelatihnya yang sedang pergi ke Nusa Tenggara Timur dengan menanyakan alamat rumah keluarganya.

Akhirnya Haris balik ke kampung halamannya dan bertemu kembali dengan keluarga besarnya di Desa Pemana.

Setelah delapan tahun 'menghilang', orangtua Haris masih tidak percaya kalau anaknya masih hidup. Pertemuan Haris bersama keluarganya, diliputi tangis rindu dan haru.

Kemudian Haris menghabiskan waktunya selama sebulan bersama keluarganya untuk melepas rindu hingga akhirnya kembali lagi ke Ibu Kota, untuk melanjutkan kariernya di cabor Wushu.

Keluarga besar Haris berasal dari Sulawesi Tenggara yang merantau ke Desa Pemana di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Atlet wushu DKI Jakarta, Laode Abdul Haris Sofyan (kiri) saat bertanding melawan atlet wushu Sumater Utara Samuel Marbun dalam final wushu sanda kelas 65Kg di GOR Hiad Sai, Merauke, Papua, Minggu 3 Oktober 2021. Abdul Haris merebut emas di nomor tersebut dengan skor 2-0.
Atlet wushu DKI Jakarta, Laode Abdul Haris Sofyan (kiri) saat bertanding melawan atlet wushu Sumater Utara Samuel Marbun dalam final wushu sanda kelas 65Kg di GOR Hiad Sai, Merauke, Papua, Minggu 3 Oktober 2021. Abdul Haris merebut emas di nomor tersebut dengan skor 2-0. (PB PON XX PAPUA/Ali Lutfi)

PON Papua

Pada gelaran PON XX Papua 2021 ini Haris mewakili kontingen DKI Jakarta pada cabang olahraga Wushu nomor Sanda kelas 65 kg. 

"Persiapan saya ikut Wushu ini kan dari tahun 2019, terus sempat ada aturan PSBB di Jakarta, nah tempat latihan saya di salah satu Mal Kelapa Gading sempat ditutup jadi nggak bisa latihan," ungkapnya.

Oleh pelatihnya tempat latihan Haris dkk dipindah ke depan mes tempat tinggalnya bersama atlet-atlet pelatda Wushu DKI Jakarta lainnya.

"Ya, jadi nggak maksimal latihannya jadi cuma lari-lari saja, terus akhirnya pengurus kami cari tempat di Sukabumi dan di daerah Ragunan yang disediakan Dispora kami berlatih aktif lagi," jelasnya.

Keikutsertaannya pada PON XX Papua merupakan suatu kebanggaan bisa mewakili kembali kontingen DKI Jakarta. 

"Saya berlaga di Kabupaten Merauke, pengalamannya baru dan pertama kali bagi saya berlomba di tanah Papua," ucap Haris yang juga sering tampil diajang MMA.

Haris menuturkan, lawan paling berat yakni Yudi Cahyadi atlet Wushu dari Jawa Barat, meski sering kali bertemu Haris mengungkapkan bahwa Yudi adalah musuh terberatnya di kelas 65 kg.

Rekor pertemuan keduanya sebanyak empat kali dan Haris tetap unggul dari Yudi. 

Haris menuturkan gerakan Wushu yang paling sering diingat adalah gerakan bantingan dan paling sulit gerakan menahan bantingan lawan.

"Pas berlaga di PON Papua saya sempat cedera dan pegal namun tidak menghalangi pertandingan," ucapnya.

Haris melanjutkan, setelah mendapatkan medali emas di PON Papua, dirinya berharap ada panggilan pelatnas dari PB Wushu Indonesia.

"Ya, sekarang harapan saya bisa ikut pelatnas untuk mewakili Indonesia diajang internasional, kemudian juga saya mau minta kerjaan sama KONI supaya ada penghasilan tetap," ungkapnya.

Diakhir pertemuan Abdul Haris Sofyan sempat memberikan sedikit motivasi kepada anak muda yang ingin berprestasi lewat cabang olahraga beladiri khususnya Wushu.

"Buat teman-teman jika ingin berusaha jangan patah semangat ya, kalau bisa lebih berjuang lagi dan tetap jadi diri sendiri dan jangan minder terhadap kemampuan diri sendiri," tegas Haris. (m27)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved