Dugaan Pemerkosaan 3 Anak di Luwu Timur, KPAI Rekomendasikan 5 Hal

Menurut Retno pihaknya mendorong kepolisian untuk segera membuka kembali kasus ini

Warta Kota/Muhammad Azzam
Ketua Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti saat mendatangi lokasi guru pukuli siswa di SMA Negeri 12, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Jumat (14/2/2020) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan terkait dugaan pemerkosaan terhadap 3 anak oleh ayahnya di Luwu Timur, sebaiknya kasus ditangani Polda Sulawesi Selatan dan jangan di Polres Luwu Timur.

"Atas kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami 3 anak oleh ayahnya sendiri, maka sebagai Komisioner KPAI, saya menyampaikan pandangan sebagai berikut," kata Retno, Minggu (10/10/2021).

"Pertama, saya menyampaikan keprihatinan dan mengecam dugaan kekerasan seksual yang dilakukan seorang ayah tehadap ketiga anaknya yang seluruhnya masih berusia di bawah 10 tahun," kata Retno.

Kedua, kata Retno, dirinya mendorong Pemerintah Daerah segera memenuhi hak anak-anak korban untuk mendapatkan rehabilitasi psikologis maupun medis.

Baca juga: Terkait Kasus Dugaan Pencabulan di Luwu Timur, Ibu Korban Bisa Menyadari Langkah Penyelidikan Polisi

"Juga perlindungan bagi anak-anak korban maupun ibunya. Selain pemerintah daerah, ibu korban dapat meminta perlindungan kepada LPSK atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

LPSK dapat menyediakan rumah aman, rehabilitasi psikologi, pendampingan hukum saat proses pemeriksaan dan juga saat kasus digelar di pengadilan, jika kasus terus berlanjut di pengadilan," paparnya.

Ketiga, kata Retno, ia mengapresiasi ibu korban yang melaporkan kejahatan seksual ini, dan tidak menyembunyikan kasus ini karena pelaku ayah korban.

"Perjuangan sang ibu akan memberikan persepsi positif juga pada anak-anaknya bahwa sang ibu begitu gigih memperjuangkan keadilan bagi anak-anaknya, ini bukan perkara mudah," kata Retno.

Baca juga: Polri Pastikan Penanganan Kasus Dugaan Pemerkosaan 3 Anak di Luwu Timur Profesional

Keempat, menurut Retno pihaknya mendorong kepolisian untuk segera membuka kembali kasus ini.

"Dan jika terbukti, tentu pelaku harus dikenakan UU Nomor 35/2014 tentang perlindungan anak atau UU PA kepada terduga pelaku. Karena dalam UU PA kalau pelakunya orang terdekat korban, dapat dilakukan Pemberatan sebesar 1/3 masa hukuman. Mengingat, orangtua seharusnya melindungi anak-anaknya bukan malah menjadi pelaku kekerasan seksual pada anaknya," papar Retno.

Kelima katanya karena ada perbedaan antara hasil visum polisi dengan hasil visum yang dipegang sang ibu, maka agar tidak ada fitnah dan saling serang cyber, maka sebaiknya kasus tidak lagi ditangani pihak Polres Luwu Timur.

"Namun sebaiknya di tangani Polda Sulawesi Selatan atau Mabes Polri, lalu visum juga, pemeriksaan psikologis secara independent dilakukan sebagai pembanding dengan temuan Polres Luwu Timur dan P2TP2A Luwu Timur. Ini untuk menghindari konflik kepentingan.

Baca juga: Brigjen Rusdi Hartono Sebut Dugaan Pencabulan Anak di Luwu Timur Bisa Diusut Kalau Ada Bukti Terbaru

Proses harus transparan dan diawasi juga oleh Kompolnas," kata Retno.

Menurut Retno, memang waktu bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan fisik, namun trauma korban pasti membekas.

Jika ada dua hasil yang sama, dari Kepolisian dan P2TP2A Luwu Timur dan pemeriksaan Independen, baru bicara kasus ditutup.

"Jika hasil berbeda maka validkan untuk memproses kasus ini secara transparan hingga proses pengadilan. Ini penting, agar korban-korban kekerasan tidak dikorbankan lagi dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal sesuai peraturan perundangan terkait anak," kata Retno.(bum)

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved