Breaking News:

Masalah-masalah yang Membuat Prestasi Sektor Tunggal Bulu Tangkis Indonesia Stagnan

Royce Badminton Academy bertekad memberikan pelatihan bulu tangkis secara sistematis, efektif, dan benar.

Editor: Eko Priyono
Tribunnews.com
Ilustrasi bulu tangkis. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sejak era Taufik Hidayat dan Susy Susanti, belum ada penerus tunggal putra dan putri Indonesia yang bisa bertengger di peringkat satu dunia.

Taufik--kelahiran Bandung, Jawa Barat 10 Agustus 2021--berstatus peringkat tunggal putra nomor satu dunia pada tahun 2000-an.

Sepanjang kariernya, Taufik pernah merebut medali emas Asian Games 2002 dan 2006, medali emas Olimpiade 2004, juara dunia 2005, serta membantu Indonesia mengangkat Piala Thomas tahun 2000 dan 2002.

Bagaimana Susy? Ia menjadi ratu tunggal putri dunia pada tahun 1990-an. Sederet prestasi ia raih di antaranya medali emas Olimpiade 1992 serta menjadi anggota timnas Indonesia sewaktu merebut Piala Uber 1994 dan 1996.

Selepas Taufik, belum ada wakil tunggal Indonesia berperingkat satu dunia.

Per 5 Oktober 2021, Anthony Sinisuka Ginting menjadi pebulu tangkis tunggal putra dengan peringkat terbaik versi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Ia nangkring di posisi kelima dengan 86.623 poin.

Di atasnya berturut-turut, Chou Tien Chen (Taiwan/90.467 poin), Anders Antonsen (Denmark/95.950), Viktor Axelsen (105.128), dan Kento Momota (Jepang/109.410).

Di tunggal putri, wakil Indonesia dengan peringkat terbaik BWF adalah Gregoria Mariska Tunjung. Ia berada di posisi ke-21 dengan 47.500 poin.

Pebulu tangkis tunggal peringkat satu dunia dipegang Tai Tzu Ying (Taiwan/107.875 poin).

Faktor inilah yang membuat Roy Karamoy dan Harry Tumengkol tergerak dengan mendirikan Royce Badminton Academy.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved