Pengamat: Aktor Intelektual Kasus Mega Korupsi Asabri Harus Diungkap

BPK mengungkap kerugian negara Rp 22,78 Triliun.Sedangkan faktanya Asabri hanya memiliki aset sebesar Rp 13 triliun.

tvberita.com
Ilustrasi korupsi. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Kasus mega korupsi Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) masih terus menjadi sorotan publik.

Sidang kasus ini pada Senin (27/9/2021) sudah mendengarkan keterangan saksi dari perusahaan sekuritas pelaku transaksi saham PT Asabri.

Dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Rabu (29/9/2021), saksi mengakui selain pembukaan rekening atas nama perusahaan PT ASABRI, beberapa pejabat PT ASABRI juga membuka rekening atas nama pribadi.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat kerugian uang negara di kasus Asabri dalam kurun waktu 2012-2019 sungguh sangat mencengangkan yakni mencapai Rp 22,78 Triliun.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dari skandal perusahaan plat merah (BUMN) lainnya Jiwasraya yang menelan kerugian negara sebesar Rp 16,70 Triliun.

Aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti mengatakan ada beberapa keanehan dalam kasus Asabri ini.

Di antaranya, BPK mengungkap kerugian negara Rp 22,78 Triliun.

Sedangkan faktanya Asabri hanya memiliki aset sebesar Rp 13 triliun.

Dari hal tersebut pun muncul beberapa pertanyaan.

"Dari mana dana Rp 22,78 triliun itu dan ke mana aliran dana tersebut? Apakah kasus Asabri hanyalah skenario yang diciptakan elit politik?," kata Haris dalam keterangannya, Rabu (29/9/2021).

Ia juga mempertanyakan mungkinkah kasus Asabri hanyalah dendam politik yang menumbalkan para terdakwa.

"Siapa aktor intelektual di balik kasus mega korupsi Asabri? Apakah dana Asabri ada kaitannya dengan dana kampanye Pilpres 2019?," katanya.

Menariknya, tambah Haris formasi majelis hakim yang menyidangkan kasus Asabri sama dengan kasus Jiwasraya. Dimana anggota majelis hakim yakni Rosmina, Saiful Zuhri, Ali Mutharom, Mulyono Dwi Purwanto dan Ketua Majelis Hakim Ignatius Eko Purwanto. 

"Ada apa ini? Apakah sidang ini pesanan? Ada kesan majelis hakim tendensius dan arogan kepada terdakwa dan tidak memberikan kesempatan kepada pihak terdakwa dan pengacara hukumnya untuk mengungkap fakta di persidangan," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved