Kasus Pelecehan KPI

Usai Tes Psikologi di LPSK, Korban Perundungan & Pelecehan Seksual di Kantor KPI Alami Paranoid Akut

Korban perundungan dan pelecehan seksual di kantor KPI berinisial MS telah menjalani pemeriksaan psikologi di kantor LPSK, Senin (27/9/2021).

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Sigit Nugroho
Wartakotalive.com/Miftahul Munir
Korban perundungan dan pelecehan seksual di kantor KPI berinisial MS mendatangi gedung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pada Senin (27/9/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, CIRACAS - Korban perundungan dan pelecehan seksual di kantor KPI berinisial MS telah menjalani pemeriksaan psikologi di kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Senin (27/9/2021).

Namun, LPSK belum mengeluarkan hasil dari pemeriksaan psikologi MS.

Sebab, LPSK membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk mengeluarkan hasil pemeriksaan psikologi.

Wakil Ketua LPSK, Edwin Partogi, mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil asesmen MS keluar dari psikolog.

Sehingga, dia belum dapat memastikan kalau MS mengidap rasa takut yang berlebihan paska peristiwa tersebut.

Baca juga: LPSK Belum Putuskan Bentuk Perlindungan kepada Korban Perundungan dan Pelecehan Seksual di KPI

Baca juga: TES KEJIWAAN Korban Perundungan dan Pelecehan Seksual di KPI Mengalami Depresi dan Trauma Berat

Baca juga: Korban Pelecehan KPI Dinyatakan Paranoid Akut

"Kami masih nunggu hasil resmi dari psikolognya," kata Edwin kepada Wartakotalive.com, Selasa (28/9/2021).

Selain asesmen psikolog, pihaknya bakal melihat tingkat ancaman dan sifat penting keterangan MS.

Setelah hasil asesmen keluar maka pihaknya bakal menetukan langkah perlindungan kepada MS.

Apakah MS perlu ditaruh di rumah aman milik LPSK atau hanya perlindungan dari jauh.

"Karena belum diputuskan(langkah perlindungan), kemarin baru asesmen psikolog," ujar Edwin.

Sementara itu, kuasa hukum MS, Rony E Hutahaean, mengatakan bahwa kliennya mengalami paranoid akut usai jalani pemeriksaan psikologi di LPSK.

MS datang ke gedung LPSK bersama Rony untuk meminta asesmen permohonan perlindungan yang sudah diajukan pada bulan Agustus 2021.

Rony mengaku kliennya sempat diberi pertanyaan oleh tim LPSK sebanyak 40 untuk mengetahui kondisi psikologinya.

"Di dalam pemeriksaan ini ada sekitar empat sub pertanyaan, masing-masing sub itu ada 10 pertanyaan," ujar Rony.

Menurut Rony, pendampingan psikologi itu merupakan tanggungjawab LPSK dalam memberikan perlindungan selama kasus tersebut berjalan.

Hasil pemeriksaan psikologi MS, kata Rony kliennya dinyatakan mengidap paranoid akut atau rasa takut berlebihan.

Penyakit yang dialami MS setelah peristiwa perundungan dan pelecehan seksual di kantor KPI terjadi.

"Jadi rasa ketakutannya dua kali rasa ketakutan normal, setelah kasus dialaminya," terang Rony.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved