Kamis, 21 Mei 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Trias Kredensial Bersama Dr Baskara T Wardaya SJ: Jas Merah

Ada yang mengatakan, jas merah artinya jangan melupakan sejarah. Ada lagi yang mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Tayang:
YouTube
Dr Baskara T Wardaya SJ, sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Awas bahaya laten komunisme! Begitu isu yang selalu gencar dikumandangkan pada momen-momen tertentu.

Looh, bukannya komunisme sekarang sudah sekarat di seluruh dunia? Di Indonesia bahkan komunisme sudah ditumpas habis oleh Orde Baru tahun 1966?

Namun, mengapa masih saja isu "bahaya laten komunisme/PKI" terus digaungkan?

Mereka yang gemar menggemakan isu itu jelas punya tujuan tertentu. Apa itu? Hanya melalui pemahaman akan sejarah, kita bisa paham maksud si penggaung isu tersebut.

Hanya melalui sejarah kita bisa lebih bijak dalam menyikapi masa kini dan masa depan. Historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan.

Trias Kredensial kali ini mengusung topik: Jas merah.

Ada yang mengatakan, jas merah artinya jangan melupakan sejarah. Ada lagi yang mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Adalah Bung Karno yang pertama kali dulu melontarkan istilah jas merah.

Misalnya, sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965. Untuk membahas lebih jauh tentang bahaya laten PKI, arti pentingnya sejarah, Trias Kredensial menghadirkan sejarawan Dr FX Baskara Tulus Wardaya SJ, yang meraih gelar doktor di bidang sejarah dari sebuah universitas di Amerika Serikat.

Sejumlah buku karya Baskara T Wardaya antara lain Membongkar Supersemar (2007), Bung Karno Menggugat (2006), Suara di Balik Prahara (2011). 

Berikut ini wawancara virtual antara Trias Kuncahyono dengan Baskara T Wardaya:

Komunisme sebagai simbol, ideologi, paham, dan teori dapat dikatakan sudah gagal. Tapi mengapa di negeri ini masih dikatakan sebagai bahaya laten?

Sebelumnya, ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan. Pertama, sebenarnya saya ini bukah ahli tentang komunisme. Saya bidangnya lebih sejarah. Tapi sejauh (yang saya) tahu, yang namanya negara komunis itu menurut Karl Marx, tidak ada.

Pertama, kata Karl Marx, masyarakat itu komunal dulu seperti suku-suku. Tahap selanjutnya ada kapitalisme dengan industri maju, dan seterusnya. Lalu di situ ada kelompok kaya-miskin, ada proletar, lalu ada revolusi.

Memang tujuannya negara komunis, tapi yang terjadi setelah itu adalah negara sosialis. Nah, di dalam sosialis itu yang dulu kaya, tidak kaya lagi karena ada kepemilikan bersama. Kalau itu terjadi, negara itu akan menjadi layu.  Maka nanti akan terjadi negara tidak ada, itu masyarakat komunis.

Itu catatan saya yang pertama.

Kedua, mengapa masih ada yang mempersoalkan bahaya laten komunis, alasannya ada tiga. 

Pertama, biasanya orang tidak paham teori Karl Marx itu. Hanya dengar-dengar saja. Karena tidak paham, yang dilihat hanya negatifnya. 

Tapi gagasan bahwa sebagai komunitas manusia itu kita hendaknya saling berbagi, saya kira itu ide yang sah. Dan saya kira setiap agama mengajarkan itu. 

Kedua, itu adalah bagian propaganda negara-negara kapitalis, yang memang mengunggulkan hak milik pribadi, dan merasa setiap ide untuk berbagi itu adalah ancaman. 

Ketiga, saya kira mas Trias sendiri tahulah, teman-teman tahulah di Indonesia ini ada kepentingan politik sesaat di balik itu. Mengibliskan atau mensetankan satu kelompok supaya dia kelihatan baik. Tapi sebenarnya dia juga nggak beda jauh.

Kalau terorisme, radikalisme itu bisa nggak disebut bahaya laten?

Bahaya laten itu kan mengalami metamorfosa. Sebelum 1998, dulu yang rajin menyampaikan (soal bahaya laten komunisme) kan Orde Baru. Dengan mengatakan itu, orang menjadi ketakutan. Kalau takut kan mudah dikuasai.

Tapi tanpa sadar itu menggembosi prestasi mereka sendiri. Kan tahun 1965-1966 (PKI) sudah kalian habisi, kok sekian tahun kemudian muncul bahaya laten, berarti kalian gagal dong. Apa gunanya menghabisi nyawa 3 juta orang Indonesia, kalau sepuluh-dua puluh tahun kemudian masih ada.

Metamorfosa kedua adalah ketika Orde Baru sudah tumbang. Itu ada yang mendengung-dengungkan lagi. Saya kira tujuannya tidak banyak beda dengan yang pertama tadi. Itu menciptakan ketakutan bersama karena dia mempunyai kepentingan lain. 

Orang yang sering teriak-teriak begitu adalah yang punya kepentingan transnasional. Ada ideologi transnasional tertentu yang mau dia usung lalu dia memakai bahaya laten komunis sebagai jargon untuk menakut-nakuti.

Bagaimana caranya untuk mengatasi itu semua?

 Yang pertama, kita melawan ignorance dulu. Supaya tahu konteks lebih luas. Maksudnya, kita harus tahu juga dinamika internasional. Salah satunya, perang dingin waktu itu. Geng kapitalis benar-benar ingin menghancurkan geng sosialis. 

Nah, kita nggak sadar, secara teori kita memang bebas aktif alias netral. Tapi dalam praktek geng kapitalis kan tidak mengizinkan kita netral. Nah, itu harus kita diagnosis dulu. 

Kedua, kita juga harus tahu dinamika di dalam negeri. Siapa yang menggunakan istilah-istilah itu, untuk kepentingan apa, dan seterusnya. 

Yang lain, saya kira perlu mempelajari sejarah dulu, baik yang lokal, nasional, domestik maupun internasional supaya tahu ceritanya. Dari situ kita baru mengambil kesimpulan.

Apa arti pentingnya mempelajari sejarah bagi bangsa ini?

Di dalam filsafat ada yang namanya pengada (being), yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya. Di antara para pengada di dunia ini, being-being itu, siapa yang punya kesadaran sejarah? Hanya satu, yaitu manusia.

Artinya, sejarahlah yang mendefinisikan manusia sebagai manusia. Sehebat-hebatnya pohon, dia tidak tahu sejarahnya. 

Oleh karena itu kalau kita sebagai manusia tidak tahu sejarah, lalu apa bedanya dengan being yang lain? 

Dari segi filsafat, paling tidak itu yang kita tahu.

Kedua, sejarah itu penting karena membantu kita untuk punya wawasan lebih luas. Melihat fenomena, tokoh, atau peristiwa di dalam arus sejarah. 

Ketiga, pada akhirnya kita tahu bahwa masa depan itu masih belum jelas, kita belum tahu. Bahkan apa yang terjadi sekarang, kita juga belum tahu. Yang kita sudah tahu, apa yang sudah terjadi di masa lalu. Yang sudah selesai.

Nah, dari yang sudah selesai itulah kita bisa belajar untuk membangun sesuatu untuk sekarang dan ke depan.

Baca selengkapnya Trias Kredensial Bersama Dr Baskara T Wardaya SJ: Jas Merah

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved