Breaking News:

PBHM: Irjen Napoleon Bonaparte Harus Belajar dari Letjen Dudung Abdurachman

Ralian menduga Napoleon Bonaparte adalah seorang fundamentalis dan sudah terpapar gerakan radikal.

TRIBUNNEWS/IGMAN IBRAHIM
Mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Napoleon Bonaparte usai diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap penghapusan red notice Djoko Tjandra, di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (28/8/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Penganiayaan terhadap Muhamad Kasman alias Muhammad Kece, di dalam rumah tahanan (Rutan) Bareskrim Polri, ternyata bukan hanya dilakukan seorang diri oleh Irjen Pol Napoleon Bonaparte.

Napoleon Bonaparte dibantu tiga tahanan lain, salah satunya diduga eks Panglima Front Pembela Islam (FPI) Maman Suryadi.

Selain penganiayaan yang dilakukan, Napoleon dan tiga tahanan lainnya juga melumuri Muhammad Kece dengan kotoran manusia.

Ketua Pusat Bantuan Hukum Masyarakat (PBHM) Ralian Jawalsen menilai, penganiayaan yang dilakukan terhadap Muhammad Kece, sangat tidak beradab.

Terlebih dilakukan oleh seorang perwira tinggi Polri berpangkat bintang dua.

Karenanya Ralian menduga Napoleon Bonaparte adalah seorang fundamentalis dan sudah terpapar gerakan radikal.

"Apalagi penganiayaan yang dilakukan Napoleon Bonaparte, ternyata bersama eks Panglima FPI Maman Suryadi. Jelas Napoleon tahu siapa Maman, yakni petinggi salah salah satu ormas anti intoleran dan radikal, yang kini sudah dibubarkan. Jadi dalam hal ini patut kita mempertanyakan ideologi dan kebangsaan Napoleon," papar Ralian kepada Wartakotalive.com, Rabu (22/9/2021).

Ralian mengatakan, Napoleon seharusnya malu dengan apa yang sudah dilakukannya serta meminta maaf kepada korban dan masyarakat Indonesia.

"Napoleon selayaknya belajar dari Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman yang menempatkan seorang panglima atau pemimpin di atas semua golongan," ujar Ralian.

"Pernyataan Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman yang mengatakan semua agama di mata Tuhan adalah benar, menunjukkan Dudung menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin di atas semua prajuritnya yang berbeda beragama. Tapi berbeda jauh dengan Napoleon. Sangat disayangkan sikap Napoleon itu," tambah Ralian.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved