Breaking News:

Berita Nasional

Kerap Impor Komoditi Pangan, PPNSI Kritisi Kebijakan Pemerintahan Jokowi

Kerap Impor Komoditi Pangan, PPNSI Kritisi Kebijakan Pemerintahan Jokowi. Berikut Selengkapnya

Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Ketua Umum Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI), Slamet 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI) menggelar rapat kerja nasional (Rakernas) yang bertajuk Kokohkan Kemandirian, Bela Tani dan Nelayan.

Acara yang digelar secara hibrid ini dihadiri oleh 30 pengurus DPW PPNSI se-Indonesia secara online, dan 42 anggota secara offline di Hotel Pangrango Resort, Sukabumi, Minggu (19/9/2021) lalu.

Ketua Umum PPNSI, Slamet mengkritisi sejumlah capaian pemerintah dalam bidang pertanian dan perikanan.

Dia menyebutkan masih banyak hal yang harus dibenahi agar sektor pertanian dan perikanan dapat memberikan nilai postif terhadap kemakmuran petani dan nelayan di Indonesia.

Baca juga: Dipanggil KPK, Gubernur Anies Tidak Tahu Keterangan yang Dibutuhkan

Baca juga: Pelonggaran PPKM, Belum Mampu Dongkrak Pengunjung di Pasar Minggu

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya kebijakan impor secara besar yang dikeluarkan pemerintah terhadap beras, hortikultura, gula dan garam sangat tidak berpihak pada petani dan nelayan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pemerintah Indonesia melakukan impor pangan dari 2018 sampai 2021 ini.

“Data BPS menunjukkan tahun 2018 Indonesia mengimpor 2,2 juta ton (US$ 1 miliar ), tahun 2019 impor 444.000 ton (US$ 184 juta), tahun 2020 impor 356.000 ton (US$ 195 juta), tahun 2021 impor 242.000 ton (US$ 110 juta)," jelas Slamet.

"Padahal Bulog menyatakan stok beras di gudangnya cukup,” tambahnya.

Baca juga: Baru Pertama Vaksinasi, Mikhail Sengaja Tunda Demi Hindari Kerumunan

Baca juga: Mikhail Akhirnya Mau Divaksin, Karena Tak Ada Kerumunan

Slamet menuturkan, pada akhir 2020 data BPS menunjukkan terjadi peningkatan signifikan impor kopi, teh dan rempah-rempah sebesar 55 persen dibanding bulan sebelumnya.

Dia mempertanyakan hal tersebut karena dulu Indonesia dijajah Belanda karena kekayaan kopi, teh dan rempah-rempahnya.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved